ASIAWORLDVIEW – Serangan Amerika Serikat ke Iran dapat memiliki dampak signifikan bagi ekonomi global, terutama jika Iran menutup Selat Hormuz. WIlayah ini menjadi jalur distribusi hingga 20% dari total pasokan minyak global.
Kenaikan harga minyak biasanya berdampak negatif pada inflasi, langkah yang dapat semakin menunda pemotongan suku bunga.
Dalam posting di X, analis pasar Ted Pillows mencatat bahwa langkah menutup Selat Hormuz di tengah ketegangan yang meningkat akan menjadi peristiwa likuiditas, karena sekitar 20% aliran minyak global melewati jalur tersebut. Ia memperingatkan bahwa penutupan tersebut akan menyebabkan harga energi melonjak.
Perlu dicatat, harga minyak telah melonjak hingga USD72 per barel kemarin, bahkan sebelum perang AS-Iran yang dimulai dengan serangan udara hari ini. Ini menandai level harga tertinggi sejak 31 Juli 2025, lebih dari sebulan setelah Israel menyerang Iran pada saat itu.
Pillows menyatakan bahwa kenaikan harga minyak akan menyebabkan guncangan inflasi, yang pada gilirannya akan menimbulkan keterbatasan likuiditas bagi bank sentral dan pada akhirnya menekan aset berisiko. Analis tersebut juga menyebutkan bahwa saham akan mengalami penyesuaian harga jika hal ini terjadi, dengan aset berbeta tinggi mengalami kerugian terlebih dahulu sebelum leverage terkena dampaknya.
Baca Juga: AS dan Israel Serang Iran, Picu Kekhawatiran Inflasi Global
Sementara itu, Pillows mencatat bahwa kenaikan harga minyak dan guncangan inflasi yang mungkin terjadi tidak berarti akan terjadi kolaps instan. Sebaliknya, ia menjelaskan bahwa hal itu berarti perluasan volatilitas dan posisi paksa, dan hal itu dapat memakan waktu berbulan-bulan sebelum risiko resesi menjadi nyata.
Reuters telah melaporkan bahwa Garda Revolusi Iran telah memberitahu kapal-kapal bahwa pelayaran melalui Selat Hormuz kini diizinkan. Sementara itu, pedagang kripto bertaruh bahwa Iran akan menutup rute ini. Data Polymarket menunjukkan peluang 69% bahwa Iran akan menutup jalur ekspor minyak ini hingga 31 Maret.
Ekonom Daniel Lacalle mencatat bahwa Iran belum pernah mampu menutup Selat Hormuz, menyarankan bahwa perang AS-Iran tidak akan mengubah hal itu. Ia juga menyebutkan bahwa hampir 80% lalu lintas menuju China, yang merupakan mitra terbesar Iran. Oleh karena itu, menutup jalur ini hanya akan membuat Iran “menembak kaki sendiri.”
Lacalle menjelaskan bahwa produksi minyak Iran saat ini mencapai 3,3 juta barel per hari, tetapi hanya mengekspor 1,5 juta barel, sebagian besar dikirim ke China. Oleh karena itu, ia percaya bahwa anggota OPEC lainnya dapat dengan cepat menggantikan gangguan produksi, yang dapat menjaga harga minyak tetap stabil.
