AS dan Israel Serang Iran, Picu Kekhawatiran Inflasi Global

Iran

ASIAWORLDVIEW Amerika Serikat (AS) bersama Israel menyerang Iran melalui serangan udara terkoordinasi yang menghantam sejumlah target strategis di Teheran, termasuk lokasi dekat kantor Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei. Serangan ini dilakukan setelah ketegangan panjang terkait program nuklir Iran dan berlangsung dengan skala besar menggunakan pesawat tempur serta rudal.

Akibatnya, sirene peringatan berbunyi di berbagai wilayah, jalur udara ditutup, dan situasi keamanan di kawasan Timur Tengah semakin memanas. Tindakan ini memicu kekhawatiran global akan eskalasi konflik yang lebih luas, termasuk dampak terhadap stabilitas energi dunia dan pasar keuangan internasional

Mengutip dari berbagai sumber, Sabtu (28/2/2026), penyerangan Amerika Serikat ke Iran membawa dampak ekonomi yang signifikan, baik secara global maupun bagi Indonesia. Ketegangan ini memicu kekhawatiran terhadap stabilitas jalur distribusi energi dunia, khususnya di kawasan Selat Hormuz, yang merupakan salah satu jalur utama perdagangan minyak internasional.

Baca Juga: Trump Ancam Tarif Impor Baru Usai Putusan MA, UE Tunda Perjanjian Dagang

Ketegangan ini menimbulkan kekhawatiran akan terganggunya pasokan energi dunia, terutama jika Iran menutup Selat Hormuz, jalur vital bagi perdagangan minyak internasional. Kondisi tersebut berpotensi mendorong harga minyak mentah melonjak tajam, yang kemudian memicu inflasi global karena biaya energi dan transportasi meningkat.

Negara-negara pengimpor minyak, termasuk Indonesia, akan merasakan tekanan besar pada neraca perdagangan dan daya beli masyarakat. Lonjakan harga energi kemudian memicu efek domino berupa meningkatnya ongkos produksi dan distribusi barang, sehingga harga kebutuhan pokok ikut terkerek naik. Kondisi ini memperburuk tekanan inflasi dan menurunkan daya beli masyarakat.

Pasar keuangan global menjadi lebih volatil, dengan investor cenderung melakukan aksi jual di aset berisiko seperti saham dan kripto, serta beralih ke aset aman seperti emas.

Ketidakpastian geopolitik ini juga dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi dunia. Hal itu karena rantai pasok terganggu dan biaya produksi meningkat

Selain itu, membuat pasar keuangan lebih volatil. Kemudian mendorong investor untuk bersikap hati-hati dan menekan pertumbuhan ekonomi di negara-negara berkembang.