IES 2026: Ketahanan Ekonomi Indonesia Diuji, Produktivitas Jadi Agenda Utama

Wakil Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Febrian Alphyanto Ruddyard

ASIAWORLDVIEW – Ketahanan daya saing Indonesia saat ini menghadapi tantangan besar akibat meningkatnya biaya produksi, persaingan regional yang semakin intens, serta ketidakpastian ekonomi global. Dalam kondisi seperti ini, produktivitas menjadi faktor kunci yang harus kembali ditempatkan sebagai agenda utama.

Hal itu diungkapkan Wakil Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Febrian Alphyanto Ruddyard dalam Indonesia Economic Summit (IES) 2026, Selasa (3/2/2026). Ia menekankan bahwa pertumbuhan ditentukan oleh seberapa produktif sistem kita bekerja, bagaimana keputusan dibuat, seberapa cepat sesuatu berjalan, dan berapa banyak nilai yang tercipta dari usaha yang sudah ada.

“Produktivitas adalah kunci agar dunia usaha Indonesia tetap kompetitif dan mampu tumbuh
berkelanjutan di tengah dinamika ekonomi global,” ujarnya.

Baca Juga: Menko Airlangga Hartarto: Stimulus Transportasi Dorong Pertumbuhan Ekonomi

Ia mendorong gerakan produktivitas nasional yang melibatkan sektor swasta, akademia, pemerintah daerah, dan komunitas. Pemerintah berperan membuka jalan—menghapus hambatan dan memberi insentif, tetapi peningkatan produktivitas terjadi ketika dunia usaha mengubah cara beroperasi sehari-hari.

“Peningkatan produktivitas tidak hanya akan membantu menekan biaya dan menjaga efisiensi, tetapi juga memastikan kualitas pertumbuhan ekonomi tetap terjaga di tengah tekanan eksternal,” ia menambahkan.

Dengan produktivitas yang lebih tinggi, Indonesia dapat memperkuat daya saing industri, meningkatkan nilai tambah, serta menciptakan ruang bagi inovasi dan keberlanjutan, sehingga mampu bertahan dan berkembang dalam dinamika ekonomi global yang penuh ketidakpastian.

Indonesia Economic Summit 2026 menegaskan pentingnya konsolidasi agenda produktivitas nasional yang terintegrasi antara kebijakan pemerintah dan praktik operasional dunia usaha. Produktivitas tidak lagi sekadar konsep dalam kerangka kebijakan, melainkan harus diwujudkan dalam langkah nyata di tingkat sektor dan perusahaan.

Melalui forum ini, lahir dorongan untuk membangun gerakan produktivitas yang inklusif, dengan melibatkan seluruh pemangku kepentingan: pemerintah sebagai regulator, dunia usaha sebagai penggerak, tenaga kerja sebagai pelaksana, institusi pendidikan sebagai penyedia talenta, serta komunitas sebagai mitra pendukung. Pendekatan kolaboratif ini diharapkan mampu memperkuat daya saing Indonesia, menciptakan nilai tambah, dan memastikan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan di tengah dinamika global yang penuh ketidakpastian.