Gorengan dan Risiko Radikal Bebas: Ancaman Memanaskan Ulang Makanan

Menggoreng makanan

ASIAWORLDVIEW – Masyarakat Indonesia memang memiliki kebiasaan menyukai makanan yang digoreng karena rasanya gurih dan teksturnya renyah. Namun, kebiasaan lain yang sering muncul adalah memanaskan ulang makanan gorengan yang tersisa agar tidak terbuang.

Praktik ini sebenarnya dapat menimbulkan risiko bagi kesehatan, karena proses pemanasan berulang bisa mengubah struktur minyak dan menghasilkan senyawa berbahaya seperti radikal bebas atau akrilamida. Selain itu, kandungan gizi dalam makanan juga dapat menurun, sementara risiko kontaminasi bakteri meningkat jika makanan disimpan terlalu lama sebelum dipanaskan Kembali, mengutip Health, Selasa (27/1/2026).

Dari sisi nutrisi, makanan yang digoreng ulang mengalami degradasi kandungan vitamin dan mineral. Vitamin yang larut dalam air maupun lemak, seperti vitamin C, vitamin B kompleks, serta vitamin A dan E, sangat sensitif terhadap panas. Paparan suhu tinggi secara berulang membuat zat-zat ini rusak atau hilang, sehingga nilai gizi makanan menurun drastis. Akibatnya, makanan yang dikonsumsi tidak lagi memberikan manfaat optimal bagi tubuh, meskipun secara visual dan rasa masih terlihat layak.

Baca Juga: Pakar Kesehatan: Generasi Muda Kian Sadar Kesehatan Tubuh, Pilih Minuman Rendah Gula

Masalah lain muncul dari perubahan struktur lemak. Minyak yang dipanaskan berulang kali akan mengalami oksidasi dan hidrogenasi parsial, yang menyebabkan peningkatan kadar lemak jenuh dan lemak trans. Lemak jenis ini diketahui dapat meningkatkan kadar kolesterol jahat (LDL) dan menurunkan kolesterol baik (HDL), sehingga berkontribusi pada risiko gangguan metabolisme, penyakit jantung, dan pembuluh darah. Semakin sering minyak digunakan ulang, semakin tinggi pula tingkat kerusakan lemak yang terjadi.

Risiko kesehatan juga meningkat ketika memanaskan atau menggoreng ulang sayuran tertentu, khususnya yang mengandung nitrat tinggi seperti bayam, seledri, dan wortel. Pada kondisi pemanasan ulang, nitrat dapat berubah menjadi nitrit, yang kemudian bereaksi membentuk nitrosamin. Senyawa ini bersifat karsinogenik dan telah dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker, terutama kanker saluran pencernaan. Inilah alasan mengapa sayuran hijau sebaiknya dikonsumsi dalam kondisi segar atau hanya dipanaskan sekali dengan metode yang lebih aman.

Selain itu, minyak goreng yang digunakan berulang kali dapat menghasilkan radikal bebas dan senyawa toksik seperti akrolein. Akrolein terbentuk saat minyak mencapai titik asap dan dikenal sebagai zat iritan yang dapat merusak jaringan tubuh. Paparan radikal bebas dalam jangka panjang dapat memicu stres oksidatif, mempercepat penuaan sel, serta meningkatkan risiko penyakit degeneratif seperti diabetes, penyakit jantung, dan gangguan fungsi hati.