ASIAWORLDVIEW – Obesitas bukan semata persoalan kelebihan asupan makanan, tetapi berkaitan dengan mekanisme biologis tubuh. Kondisi ini termasuk gangguan kendali nafsu makan dan rasa kenyang.
Penderita obesitas mengalami kecenderungan untuk cepat merasa lapar dan sulit mencapai rasa kenyang. Alhasil pengaturan porsi makan menjadi tantangan besar meskipun ada niat kuat untuk menurunkan berat badan.
Pakar kesehatan Dr. Guadelupe Maria Melissa menjelaskan, kondisi ini biasanya dipengaruhi oleh faktor fisiologis. Misalnya, ketidakseimbangan hormon pengatur nafsu makan (leptin dan ghrelin), serta sensitivitas tubuh terhadap sinyal kenyang yang menurun.
“Dorongan untuk makan lebih sering atau dalam jumlah lebih besar tetap muncul, membuat proses diet terasa berat dan sering kali tidak konsisten,” ia mengatakan lewat siaran pers yang dikutip Asiaworldview, Jumat (16/1/2026).
Baca Juga: Melewatkan Sarapan Justru Berisiko Alami Obesitas
Situasi ini menunjukkan bahwa penanganan obesitas tidak hanya soal mengurangi kalori, tetapi juga membutuhkan pendekatan menyeluruh yang mencakup edukasi, perubahan perilaku, serta dukungan medis agar pasien dapat mengelola rasa lapar dan kenyang dengan lebih efektif.
Perubahan perilaku, pola makan, dan aktivitas fisik tetap menjadi fondasi utama dalam penurunan berat badan jangka panjang, namun dalam jangka pendek intervensi medis dapat membantu pasien mengendalikan rasa lapar agar proses adaptasi gaya hidup lebih mudah dijalani. Salah satu terapi yang digunakan adalah semaglutide, obat yang bekerja dengan mengaktifkan reseptor glucagon-like peptide-1 (GLP-1).
Mekanisme ini tidak hanya membantu mengontrol kadar gula darah, tetapi juga mempercepat munculnya rasa kenyang, sehingga asupan kalori dapat ditekan secara lebih efektif.
“Semaglutide berperan sebagai pendukung dalam perjalanan penurunan berat badan, memberi pasien kesempatan untuk menyesuaikan diri dengan pola hidup sehat sambil tetap menjaga konsistensi program diet dan aktivitas fisik,” pungkasnya.
