ASIAWORLDVIEW – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyampaikan SPBU swasta telah mulai melakukan impor bensin untuk kebutuhan awal tahun 2026. Langkah ini dilakukan guna memastikan ketersediaan pasokan bahan bakar di dalam negeri tetap terjaga, terutama menghadapi tren permintaan energi yang meningkat di awal tahun.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas) Kementerian ESDM Laode Sulaeman Pernyataan tersebut menanggapi keluhan masyarakat soal stok BBM di sejumlah SPBU swasta yang kosong saat ditemui di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Rabu (14/1/2026). BBM masih dalam proses distribusi, jelasnya, meminta masyarakat untuk bersabar.
“Adanya mpor tersebut, diharapkan distribusi bensin ke masyarakat dapat berjalan lancar tanpa gangguan. Selain itu, mendukung stabilitas pasokan energi nasional di tengah dinamika pasar global,” ia menjelaskan.
Baca Juga: Vivo dan Shell Batal Beli BBM Pertamina, Etanol dan Skema Bisnis Tak Sesuai
Laode menegaskan bahwa target pemerintah memastikan stok BBM di SPBU swasta kembali normal sebelum memasuki bulan Ramadhan dan Lebaran. Langkah ini penting mengingat kedua periode tersebut biasanya disertai dengan lonjakan mobilitas masyarakat, baik untuk aktivitas ibadah maupun mudik, yang berdampak pada peningkatan konsumsi energi.
“Kan berdekatan nih, Nataru (Natal dan Tahun Baru), lalu sebentar lagi Ramadhan dan Lebaran. Ini kami kejar,” kata dia.
Ia meminta kepada pengelola SPBU swasta untuk segera melakukan negosiasi dengan Pertamina. Mulai Maret 2026, pemerintah tak akan memberi izin impor solar kepada SPBU swasta.
Para pengelola SPBU swasta nantinya akan turut menyerap produksi solar dari Kilang Balikpapan yang baru selesai direvitalisasi atau Refinery Development Master Plan (RDMP) untuk memenuhi kebutuhan pelanggan mereka.
Dengan pemulihan stok lebih awal, diharapkan distribusi BBM dapat berjalan lancar, harga tetap stabil, dan kebutuhan masyarakat terpenuhi tanpa kendala, sehingga momentum Ramadhan dan Lebaran dapat berlangsung dengan nyaman dan aman.
