ASIAWORLDVIEW – Ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan China kembali meningkat, dengan China mengumumkan sanksi baru terhadap perusahaan-perusahaan Amerika. Bitcoin mengalami penurunan di tengah perkembangan ini, karena hubungan antara kedua negara menjadi salah satu sorotan pasar utama tahun ini.
Menurut laporan Bloomberg, China mengumumkan sanksi terhadap 20 perusahaan pertahanan AS dan 10 eksekutif, langkah yang menandakan kemarahan China atas penjualan senjata AS ke Taiwan. Boeing, Northrop, L3Harris Maritime Services, dan Vantor termasuk di antara perusahaan yang diumumkan oleh Kementerian Luar Negeri China akan dikenai sanksi.
Sebagai bagian dari sanksi, China akan membekukan aset yang dimiliki perusahaan-perusahaan tersebut di negara itu dan melarang mereka berbisnis dengan entitas China. Harga BTC turun seiring perkembangan ini, dengan data TradingView menunjukkan kripto utama tersebut saat ini diperdagangkan sekitar USD87.000, turun dari level tertinggi intraday sekitar USD89.000.
Nasib Bitcoin yang tengah anjlok semakin menambah ketidakpastian di pasar global, terutama ketika hubungan Amerika Serikat dan China kembali memanas. Penurunan tajam harga Bitcoin mencerminkan sentimen negatif investor yang khawatir terhadap kondisi ekonomi dunia, ditambah dengan tensi geopolitik antara dua negara adidaya yang memengaruhi stabilitas pasar keuangan.
Baca Juga: Pasar Kripto Tertekan, Bitcoin dan Kripto Besar Terseret Sentimen Risk-Off Global
Ketegangan AS–China, baik terkait perdagangan maupun isu teknologi, membuat likuiditas semakin ketat dan investor cenderung menghindari aset berisiko seperti kripto. Kombinasi faktor ekonomi dan geopolitik ini menjadikan pasar kripto rentan terhadap fluktuasi ekstrem, sehingga pelaku pasar harus lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan investasi.
Perlu dicatat bahwa ancaman Trump tentang tarif 150% pada Oktober menjadi salah satu pemicu yang menyebabkan crash pasar kripto pada 10 Oktober. Namun, ketegangan perdagangan tersebut mereda setelah AS dan China mencapai gencatan senjata perdagangan selama satu tahun.
Sebelum sanksi terbaru China terhadap perusahaan AS, BTC gagal menguat meskipun aset-aset besar lainnya, termasuk saham dan logam mulia seperti emas, mencapai rekor tertinggi. Hal ini semakin memperkuat kekhawatiran bahwa Bitcoin dan pasar kripto secara keseluruhan mungkin sudah berada dalam pasar bearish, dengan harga kripto berisiko mengalami penurunan lebih lanjut.
