ASIAWORLDVIEW – Levi’s melalui koleksi terbarunya Blue Tab menegaskan kembali reputasinya sebagai ikon denim dengan dedikasi tinggi terhadap craftsmanship. Koleksi ini menjadi wujud ekspresi premium dan artistik dari seni pembuatan denim, menghadirkan keindahan denim Jepang dalam bentuk paling autentik. Setiap potongan dirancang dengan elegan dan konstruksi yang sempurna, mencerminkan penghormatan terhadap tradisi klasik sekaligus memberikan sentuhan modern khas Levi’s.
“Konsumen Levi’s di Indonesia, terutama di kota besar, adalah pengguna setia yang memahami nilai sebuah pakaian. Bagi mereka, denim bukan hanya tentang tampilan, tetapi juga tentang cerita dan rasa percaya diri yang dibawanya,” kata Stiffen Andika, Country Marketing Lead, PT Levi Strauss Indonesia.
Blue Tab bukan sekadar koleksi pakaian, melainkan sebuah perayaan atas perpaduan tradisi dan inovasi yang menjadikan denim sebagai karya seni yang abadi. Ini merupakan sebuah digital lookbook yang menampilkan empat figur kreatif dari berbagai kultur dan tren, yang masing-masing merepresentasikan semangat craftsmanship dalam konteks budaya modern.
Baca Juga: Levi’s Rayakan Warisan Denim Lewat Kolaborasi Sinematik dan Cerita Budaya
“Blue Tab hadir sebagai penghargaan bagi komunitas ini, yaitu mereka yang mampu
menggabungkan tradisi, kreativitas dan gaya hidup urban dengan cara yang paling natural,” ia menambahkan.
Melalui kampanye ini, Levi’s menekankan bagaimana perhatian terhadap detail, kualitas konstruksi, dan ekspresi personal dapat berpadu menjadi bahasa visual yang kuat dan relevan bagi generasi masa kini yang dinamis. Lookbook ini tidak hanya menyoroti keindahan denim sebagai medium artistik, tetapi juga mengangkat nilai-nilai kreativitas, keaslian, dan keberanian berekspresi yang menjadi ciri khas budaya kontemporer.
Michael Killian, creative director dan desainer di balik Zodiac Jakarta, menghadirkan sudut pandang
desain yang presisi dan terukur – sebuah refleksi dari nilai craftsmanship yang menjadi landasan Blue
Tab™. Sementara itu, Priscilla Jamail, seorang musisi dan vokalis dari band elektronik Goodnight
Electric yang baru debut di film Perayaan Mati Rasa (2025) menganggap denim sebagai medium yang
lentur, mampu mengikuti perjalanan identitas dan ekspresi diri.
Sedangkan, Kent Hadi – desainer sekaligus tastemaker – soroti hubungan denim dengan heritage. Baginya, denim bukan sekadar material, melainkan simbol lintas generasi yang terus berevolusi. Kent menghadirkan interpretasi gaya yang menghubungkan tradisi dengan relevansi kontemporer, menekankan bagaimana craftsmanship mampu menjembatani masa lalu dan masa kini.
