ASIAWORLDVIEW – Pulau Pramuka, yang terletak di gugusan Kepulauan Seribu, merupakan salah satu destinasi wisata bahari yang memukau dengan keindahan alamnya. Hamparan pasir putih, air laut yang jernih, serta kekayaan ekosistem laut seperti terumbu karang dan penyu menjadikannya surga kecil yang menarik bagi wisatawan.
Namun, keindahan ini tidak akan bertahan lama tanpa kesadaran dan partisipasi aktif dalam menjaga kelestariannya. Sampah plastik, eksploitasi sumber daya alam, dan aktivitas wisata yang tidak ramah lingkungan dapat merusak ekosistem yang rapuh.
Berdasarkan hasil penelitian, kondisi tutupan karang hidup di perairan Pulau Pramuka menunjukkan angka antara 20,65% hingga 47,17%, yang dikategorikan sebagai kondisi “sedang hingga rusak”. Sementara penelitian lain menyebutkan bahwa tutupan karang keras di pulau ini berkisar antara 6%–34,8% pada kedalaman 3 m dan 9,3%–49,5% pada kedalaman 7 m.
Baca Juga: Berolahraga Sambil Menjaga Lingkungan di Garmin Run Indonesia 2025
Temuan ini mengingatkan bahwa tanpa intervensi yang tepat, potensi ekosistem Pulau Pramuka bisa terkikis lebih jauh. Padahal kawasan ini berada dekat sekali dengan kawasan ibu kota dan memiliki peluang besar untuk pengembangan ekowisata dan pelibatan masyarakat lokal.
Organisasi konservasi LindungiHutan memilih Pulau Pramuka sebagai lokasi utama untuk program penanaman mangrove sekaligus rehabilitasi terumbu karang. Program ini tidak hanya melibatkan penanaman mangrove namun juga kegiatan restorasi karang di lautan terbuka, sehingga bisa menjadi workshop lapangan bagi komunitas, pelajar, peneliti, dan wisatawan yang tertarik pada konservasi laut.
“Pulau Pramuka menawarkan titik temu antara ekosistem yang sangat rawan dan peluang besar untuk menghidupkan kembali terumbu yang rusak. Kami melihat di sini bukan sekadar penanaman pohon, tapi pemulihan habitat yang bisa menjadi ruang belajar bagi banyak pihak,” ujar seorang perwakilan LindungiHutan.
Program konservasi di Pulau Pramuka mencakup serangkaian langkah penting yang dirancang secara terpadu untuk memulihkan sekaligus menjaga keseimbangan ekosistem pesisir. Kegiatan dimulai dengan penanaman mangrove di sepanjang garis pantai, yang berfungsi memperkuat tebing, melindungi pesisir dari abrasi, serta menjadi habitat penting bagi berbagai biota laut.
Di sisi lain, upaya transplantasi terumbu karang dilakukan dengan metode ilmiah, melibatkan komunitas lokal dan lembaga riset agar prosesnya tidak hanya berdampak ekologis, tetapi juga memperkaya pengetahuan masyarakat tentang konservasi laut.
Oleh karena itu, penting bagi pengunjung dan masyarakat sekitar untuk menerapkan prinsip pariwisata berkelanjutan, menjaga kebersihan, serta mendukung konservasi agar Pulau Pramuka tetap menjadi tempat yang indah dan lestari bagi generasi mendatang.
