Cara Sehat Konsumsi Telur: Kunci Nutrisi Tanpa Risiko Kolesterol

Telur rebus disebut lebih sehat ketimbang goreng.(Pexel)

ASIAWORLDVIEW – Telur selama ini sering dianggap sebagai pemicu utama kolesterol tinggi. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa faktor lain justru lebih berperan dalam peningkatan kadar kolesterol dalam darah.

Studi yang diterbitkan dalam The American Journal of Clinical Nutrition pada bulan Juli menemukan bahwa lemak jenuh dalam makanan, bukan kolesterol dalam telur, terkait dengan kadar kolesterol yang lebih tinggi. Faktanya, peserta yang mengonsumsi dua telur sehari selama lima minggu justru mengalami perbaikan kadar kolesterol.

“Saat berbicara tentang sarapan yang dimasak, bukan telur yang perlu Anda khawatirkan—melainkan porsi tambahan bacon atau sosis yang lebih mungkin memengaruhi kesehatan jantung Anda,” kata Jon Buckley, PhD, penulis utama studi dan dekan eksekutif Unit Akademik Kesehatan Terpadu dan Kinerja Manusia Universitas Selatan Australia, dalam siaran pers.

Ini karena telur kaya akan kolesterol. Satu butir telur besar mengandung sekitar 200 miligram (mg) kolesterol diet, dua pertiga dari batas harian yang direkomendasikan sebelumnya sebesar 300 mg.

Baca Juga: Rutin Olahraga Jaga Kekuatan Otot, Terhindar dari Sarcopenia

Menu sehat dengan protein tinggi, telur rebus dan alpukat.(Pexel)
Menu sehat dengan protein tinggi, telur rebus dan alpukat.(Pexel)

Namun, penelitian terbaru menemukan bahwa sebenarnya lemak jenuh dalam makanan yang meningkatkan kolesterol LDL. Sebagian besar makanan tinggi kolesterol juga tinggi lemak jenuh. Telur mengandung sangat sedikit (1,6 gram), yang memicu perdebatan.

“Selama dua dekade terakhir, kami memiliki keyakinan yang cukup kuat bahwa lemak jenuh, jauh lebih dari kolesterol yang meningkatkan kadar LDL,” kata Sean Heffron, MD, ahli kardiologi pencegahan di Pusat Pencegahan Penyakit Kardiovaskular di NYU Langone Heart, kepada Health.

Studi baru ini menguji teori tersebut. Para peneliti membagi 61 orang dewasa sehat menjadi tiga kelompok dan meminta mereka mengikuti diet spesifik selama lima minggu, bergantian untuk mengalami setiap pola makan.

Hasil menunjukkan bahwa lemak jenuh terkait dengan peningkatan kolesterol LDL, tetapi kolesterol diet tidak. Selain itu, dibandingkan dengan diet kontrol, diet telur menurunkan kolesterol LDL (rata-rata 5,7 mg/dL). Hal ini menunjukkan bahwa lemak jenuh meningkatkan kadar LDL—bukan kolesterol diet.

Mengonsumsi telur secara sehat dapat dilakukan dengan memperhatikan cara pengolahan dan porsi yang tepat. Telur sebaiknya dimasak dengan metode rendah lemak seperti direbus, dikukus, atau dimasak tanpa minyak berlebih, dibandingkan dengan digoreng menggunakan minyak jenuh. Menghindari tambahan garam berlebihan dan pelengkap tinggi lemak seperti mentega, keju, atau daging olahan juga penting untuk menjaga keseimbangan nutrisi.

Konsumsi telur dalam jumlah moderat—misalnya satu hingga dua butir per hari—masih dianggap aman bagi kebanyakan orang, terutama jika dikombinasikan dengan pola makan seimbang yang kaya serat, sayuran, dan lemak sehat. Selain itu, penting untuk mempertimbangkan kondisi kesehatan individu, seperti kadar kolesterol dan riwayat penyakit jantung, agar konsumsi telur tetap memberikan manfaat tanpa risiko berlebih.