ASIAWORLDVIEW – Indonesia berduka atas kepergian Kwik Kian Gie, seorang ekonom senior dan tokoh politik yang dikenal karena integritas dan keberpihakannya pada rakyat. Ia meninggal dunia pada Senin malam, 28 Juli 2025, di usia 90 tahun/ Ia sempat dirawat selama dua bulan di RS Medistra karena gangguan pencernaan
Kwik Kian Gie, sosok yang tak pernah lelah memperjuangkan ekonomi Indonesia yang berdaulat dan berpihak pada rakyat. Ia menentang keras intervensi lembaga asing seperti IMF, yang menurutnya justru memperburuk kondisi ekonomi nasional pasca-krisis 1998. Dalam pandangannya, kebijakan IMF melalui Letter of Intent hanya menjerat Indonesia dalam utang luar negeri dan memperkuat dominasi asing atas sektor strategis.
Ia menentang keras liberalisasi ekonomi yang berlebihan dan privatisasi aset negara, karena menurutnya hal itu hanya memperkaya segelintir elite dan memperlemah posisi rakyat kecil. Kwik mendorong penguatan sektor riil seperti pertanian, industri kecil, dan UMKM sebagai tulang punggung ekonomi nasional.
Baca Juga: Alasan Trump Turunkan Tarif Impor untuk Indonesia, Jadi 19 Persen
Kwik Kian Gie juga menekankan pentingnya pengelolaan utang luar negeri secara bijak agar tidak menjadi alat politik negara asing. Ia juga percaya bahwa ekonomi bukanlah ilmu yang netral, melainkan sarat dengan nilai moral dan keberpihakan, sehingga kebijakan publik harus berpihak pada kepentingan rakyat, bukan pada kekuasaan atau pasar semata
Sebagai Menteri Koordinator Bidang Ekonomi dan kemudian Kepala Bappenas, Kwik menolak privatisasi BUMN secara agresif dan menyebutnya sebagai “perampokan negara secara legal”. Ia juga mengkritik keras praktik oligarki dan konglomerat hitam yang hidup dari rente kekuasaan, karena dianggap merugikan rakyat dan memperlemah struktur ekonomi nasional3.
Gagasan ekonomi kerakyatan yang ia usung menekankan pentingnya keberpihakan pada sektor riil, penguatan UMKM, dan pengelolaan fiskal yang transparan. Bahkan setelah keluar dari pemerintahan, Kwik tetap aktif menulis, mengajar, dan mendirikan lembaga pendidikan seperti Institut Bisnis dan Informatika Indonesia, yang kemudian berganti nama menjadi Institut Bisnis dan Informatika Kwik Kian Gie.
Warisan pemikirannya kini menjadi alarm moral dan intelektual di tengah tantangan ekonomi global dan jebakan utang luar negeri yang masih menghantui Indonesia. Sosoknya dikenang sebagai ekonom nasionalis yang tak bisa dibungkam oleh arus kekuasaan
