Laporan Hitachi Vantara: AI Jadi Penggerak Utama Ekonomi dan Keberlanjutan di Asia Pasifik

Penggunaan teknologi AI.(freepik)

ASIAWORLDVIEW – Laporan terbaru dari Hitachi Vantara menunjukkan bahwa Asia berada di garis depan dalam adopsi kecerdasan buatan (AI), dengan 42% organisasi di kawasan ini menganggap AI sebagai komponen krusial dalam operasional mereka, melampaui rata-rata global sebesar 37%2. Negara-negara seperti Singapura (57%) dan Tiongkok (53%) menjadi pemimpin dalam tren ini, menandakan pergeseran dari proyek percontohan menuju penerapan AI skala penuh.

Matthew Hardman, Chief Technology Officer untuk Asia Pasifik di Hitachi Vantara, menyoroti bahwa Artificial Intelligence atau AI bukan lagi sekadar buzzword, melainkan telah menjadi penggerak utama dalam keberlanjutan, keamanan, dan pertumbuhan ekonomi di kawasan Asia Pasifik. Ia menyatakan bahwa pesatnya urbanisasi dan ekonomi digital di wilayah ini menjadikannya lingkungan ideal untuk penerapan solusi AI inovatif, terutama dalam bidang efisiensi energi, manajemen cloud hybrid, dan otomatisasi cerdas.

“Seiring organisasi di seluruh Asia beralih dari proyek percontohan ke penerapan AI skala penuh, banyak dari mereka menghadapi hambatan yang sudah tidak asing lagi: data yang tidak terstruktur, tidak lengkap, atau tidak tersedia saat dibutuhkan. Berdasarkan riset terbaru dari Hitachi Vantara, 42 persen organisasi di Asia kini menganggap AI sebagai hal yang krusial bagi operasional mereka,” ia mengatakan dalam keterangannya, dikutip Asiaworldview.com, Senin (28/7/2025).

Namun, meskipun antusiasme tinggi, tantangan mendasar masih membayangi: hanya 32% model AI di Asia yang menghasilkan output akurat, dan hanya 30% data yang terstruktur, menunjukkan bahwa kualitas dan ketersediaan data masih menjadi hambatan utama.

Baca Juga: Veo 3 dari Google, Gebrak Dunia Kreatif Digital lewat Model AI Super Canggih

Teknologi AI
Teknologi AI.(freepik)

System administrator, sosok yang menjaga sistem tetap berjalan, mengelola data, memastikan keamanan, dan membantu bisnis tetap online” — membangun pondasi bagi keberhasilan AI di dunia nyata.

“Dalam hiruk-pikuk menuju otomatisasi, mudah sekali melupakan upaya manusia di balik transformasi digital. Sysadmin-lah yang membuat AI benar-benar bisa bekerja di dunia nyata — di mana data sering berantakan, risiko selalu ada, dan gangguan operasional bukan pilihan,” ia menambahkan.

Dalam konteks data center, Hardman menjelaskan bahwa teknologi digital twin berbasis AI telah berhasil mengurangi konsumsi energi secara signifikan. Sementara itu, adopsi arsitektur cloud hybrid dan solusi penyimpanan berbasis objek menjadi kunci dalam mengelola lonjakan volume data untuk pelatihan dan penerapan AI.

Ia juga menyoroti bagaimana UKM di Asia mulai memanfaatkan AI untuk bersaing secara efektif, seperti melalui otomatisasi layanan pelanggan dengan model bahasa kecil multibahasa dan analitik prediktif untuk manajemen inventaris