Laporan Palo Alto Networks: Lalu Lintas GenAI Melonjak hingga 890%

Teknologi AI

ASIAWORLDVIEW – Laporan State of Generative AI 2025 dari Palo Alto Networks benar-benar membuka mata. Sepanjang tahun 2024, lalu lintas GenAI melonjak hingga 890%, menandai era baru adopsi AI di lingkungan perusahaan.

Meskipun pertumbuhan AI menawarkan manfaat produktivitas yang signifikan, laporan tersebut memperingatkan bahwa penggunaan tools GenAI yang tidak disetujui, ancaman yang muncul, dan kurangnya tata kelola telah memperluas attack surface yang dihadapi organisasi dengan cepat, terutama di kawasan Asia-Pasifik dan Jepang.

“Adopsi AI menawarkan peluang transformatif di seluruh sektor komersial dan pemerintah di kawasan ini. Namun, seperti yang disoroti dalam laporan ini, kami juga melihat adanya attack surface yang berkembang, terutama dengan penggunaan aplikasi GenAI yang berisiko tinggi di sektor infrastruktur penting,” ujar Tom Scully, Director and Principal Architect for Government and Critical Industries, Asia Pacific & Japan, at Palo Alto Networks, dikutip Asiaworldview.com, Kamis (10/7/2025).

Baca Juga: NVIDIA RTX 50 Series, Lompatan Besar untuk Masa Depan Digital

Perusahaan-perusahaan dengan cepat merangkul GenAI untuk berbagai penggunaan mulai dari asisten penulisan dan platform coding, hingga customer support dan alat pencarian. Namun, adopsi yang meluas ini melampaui kemampuan banyak organisasi untuk menerapkan kontrol keamanan yang tepat. Rata-rata, organisasi sekarang mengelola 66 aplikasi GenAI di lingkungan mereka, dengan 10 persen diklasifikasikan berisiko tinggi.

“Organisasi harus menyeimbangkan inovasi dengan tata kelola yang kuat, mengadopsi arsitektur keamanan yang memperhitungkan risiko-risiko unik dari AI. Mulai dari shadow AI, kebocoran data, hingga ancaman lebih kompleks yang ditimbulkan oleh model AI agentik,” ia menambahkan.

Peluncuran DeepSeek-R1 pada Januari 2025 memicu lonjakan trafik hingga 1.800% hanya dalam dua bulan. Sayangnya, GenAI dimanfaatkan untuk asisten penulisan, coding otomatis, dukungan pelanggan, dan pencarian enterprise.

“Pengawasan proaktif dan kontrol keamanan yang adaptif sangat penting untuk memastikan bahwa manfaat AI dapat direalisasikan sepenuhnya tanpa mengorbankan keamanan nasional, kepercayaan publik, atau integritas operasional,” pungkassnya.

Laporan ini juga menyoroti bahwa kawasan Asia-Pasifik, termasuk Indonesia, menghadapi tantangan besar dalam mengimbangi kecepatan adopsi dengan tata kelola keamanan yang memadai.