ASIAWORLDVIEW – Saat kesedihan datang dan kekecewaan bertubi-tubi terasa seperti nasib sedang berbalik arah, mudah sekali rasanya rasa syukur memudar. Bahkan, seolah tidak lagi punya tempat di hati yang penuh luka. Tapi justru di titik-titik itulah, syukur paling murni bisa tumbuh—bukan karena segalanya berjalan baik, melainkan karena kita memilih tetap percaya bahwa masih ada cahaya setelah gelap.
Dalam artikel How to Find Things to Be Grateful For (Even When It’s Tough) yang ditinjau oleh Dr. Chris Mosunic, ia menekankan bahwa rasa syukur adalah praktik, bukan perasaan yang harus dipaksakan—terutama saat hidup sedang sulit.
Raya syukur bisa hidup berdampingan dengan emosi negative. Dr. Mosunic menekankan bahwa kita tetap bisa berlatih syukur meski sedang sedih, cemas, atau marah. Syukur bukan untuk “memperbaiki” perasaan, tapi untuk menyokong pengalaman emosional kita tanpa menghapusnya.
Baca Juga: Pakar: Rutin Berolahraga di Tengah Kesibukan, Membuat Tubuh dan Mental Lebih Sehat
Kita tidak bisa mencapai syukur yang otentik jika tidak jujur dengan perasaan kita saat ini. Maka, sadari dan izinkan emosi hadir, lalu perlahan buka ruang untuk syukur. Jangan menolaknya, tapi akui, “kita sedang tidak baik-baik saja.”
Jika syukur terasa terlalu jauh, mulailah dari hal-hal kecil, misalnya secangkir kopi. Saya kerap kali berkelakar di hadapan teman atau ekan, “dunia akan baik-baik saja selama masih ada kopi”. Hal kecil yang “biasa saja” bisa menjadi jembatan menuju rasa syukur.
Jangan lupakan untuk mengucapkan “terima kasih” secara langsung atau dalam hati. ternyata hal ini bisa memperkuat rasa syukur dan menciptakan lingkaran umpan balik positif dalam hubungan sosial.
