Airlangga Hartarto: Tarif AS Hambat Daya Saing Ekspor Indonesia

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto

ASIAWORLDVIEW – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Indonesia pada Jumat (5/6/2026) menegaskan Amerika Serikat mengenakan bea masuk tambahan sebesar 10 persen terhadap ekspor Indonesia. Langkah ini akan berdampak signifikan pada hubungan dagang kedua negara.

Menurutnya, penambahan pajak ini dinilai sebagai bentuk proteksionisme yang dapat menekan daya saing produk Indonesia di pasar AS, terutama bagi sektor manufaktur, tekstil, alas kaki, dan produk agrikultur yang selama ini menjadi komoditas unggulan ekspor. Pemerintah melihat kebijakan tersebut bukan hanya sebagai hambatan tarif, tetapi juga sebagai sinyal meningkatnya tensi perdagangan menjelang pemilu sela di AS, di mana isu ekonomi dan perlindungan industri domestik menjadi agenda politik utama.

“Langkah-langkah strategis ini tentu akan menjadi stimulus ekonomi yang besar bagi industri Indonesia, mengurangi biaya ekspor, dan meningkatkan daya saing komoditas utama kita di pasar domestik AS,” sebutnya.

Baca Juga: Airlangga Hartarto: Ekonomi Indonesia Berhasil Bertahan di Tengah Ketidakpastian Global

Indonesia akan terus melakukan diplomasi ekonomi dan memanfaatkan forum multilateral seperti WTO untuk memastikan perdagangan berjalan adil. Selain itu, pemerintah juga mendorong diversifikasi pasar ekspor ke kawasan Asia, Eropa, dan Timur Tengah agar tidak terlalu bergantung pada pasar AS. Kebijakan ini diharapkan dapat memperkuat ketahanan ekonomi nasional sekaligus menjaga stabilitas neraca perdagangan.

“Indonesia meminta untuk 18 pengecualian produk dalam penyelidikan Pasal 301 kemungkinan besar akan dikabulkan,” ia mengatakan.

Pernyataan dari Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto tersebut disampaikan setelah pertemuannya dengan Duta Besar USTR Jamieson Greer di sela-sela pertemuan OECD di Paris.

Perwakilan Perdagangan AS telah mengusulkan tarif hingga 12,5 persen atas impor dari 60 negara setelah menetapkan bahwa negara-negara tersebut gagal membatasi perdagangan barang-barang yang diproduksi dengan tenaga kerja paksa, demikian diumumkan Washington awal pekan ini. AS mengusulkan tarif 10 persen untuk Indonesia, lebih rendah dibandingkan beberapa pesaingnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *