ASIAWORLDVIEW – Pemerintah Indonesia bergerak cepat merespons eskalasi konflik Iran dengan Israe; yang melibatkan Amerika Serikat (AS). Hal ini karena dampaknya bisa sangat luas terhadap ekonomi dan keamanan nasional.
Menurut laporan terbaru, Presiden Prabowo memanggil sejumlah pejabat tinggi negara, termasuk Menko Polhukam Budi Gunawan, untuk membahas strategi nasional menghadapi krisis ini.
Respons konflik Iran dengan Israel dan AS sangat mendesak. Prioritas utama adalah keselamatan WNI yang berada di kawasan konflik, terutama di Iran, Irak, dan negara-negara sekitarnya. Presiden Prabowo langsung memerintahkan evakuasi tahap pertama, dan 29 WNI telah dipulangkan melalui Baku, Azerbaijan.
Baca Juga: Serangan Udara AS ke Iran Picu Gelombang Kekhawatiran Pasar Global
Memulai evakuasi tahap pertama pada 20 Juni 2025, dengan 115 WNI diberangkatkan menggunakan empat bus. Selanjutnya, memulangkan 29 WNI ke Jakarta pada 24 Juni 2025 melalui tiga penerbangan komersial dari Baku.
Selain itu, membuka jalur komunikasi darurat dan menyampaikan nota diplomatik kepada otoritas Iran.
Pemerintah juga mengantisipasi eskalasi konflik. Serangan udara AS ke fasilitas nuklir Iran berpotensi memicu perang terbuka di Timur Tengah. Pemerintah tidak ingin terlambat jika situasi memburuk, sehingga rencana kontinjensi dan evakuasi disiapkan sejak dini.
Sebagai negara yang menjunjung tinggi perdamaian dunia, Indonesia juga mendorong penyelesaian damai melalui jalur diplomasi multilateral seperti PBB, OKI, dan ASEAN.
Pemerintah menilai ketegangan geopolitik bisa berdampak pada harga minyak, inflasi, dan nilai tukar rupiah. Langkah cepat pemerintah bertujuan meminimalkan dampak ekonomi domestik dan menjaga kepercayaan pasar.
