ASIAWORLDVIEW – Syaraf kejepit terjadi ketika saraf mengalami tekanan dari jaringan di sekitarnya, seperti tulang, otot, atau ligamen. Kondisi ini dapat menyebabkan nyeri, kesemutan, mati rasa, dan kelemahan otot di area yang terdampak.
“Secara harfiah, saraf terjepit memang berarti saraf yang terjepit di antara ruas-ruas tulang belakang. Saraf terjepit tidak akan terjadi, jika tidak ada perubahan struktur tulang. Artinya, harus terjadi penyempitan dahulu pada ruas tulang belakang,” kata dr. Irca Ahyar Sp.N, DFIDN dari DRI Clinic.
Gejala syaraf kejepit bisa bervariasi tergantung lokasi saraf yang terjepit. Misalnya, jika terjadi di pinggang, nyeri bisa menjalar ke paha dan kaki. Jika terjadi di leher, bisa menyebabkan nyeri yang menjalar ke bahu dan lengan.
Baca Juga: Generasi Muda Gunakan Smartwatch untuk Pelacakan Kesehatan dan Kebugaran
Menurut dr. Irca, secara umum ada dua penyebab saraf terjepit. Pertama, trauma atau benturan. Misalnya, akibat terpeleset dan jatuh dalam posisi terduduk, kecelakaan motor yang menyebabkan Anda jatuh telentang dengan benturan pada tulang belakang, atau benturan akibat aktivitas olahraga high impact, seperti sepak bola dan basket.
“Perubahan struktur tulangnya memang benar-benar baru terjadi. Contohnya, kita mengangkat beban berat tapi sebetulnya otot tidak siap atau kita salah posisi,” katanya, menjelaskan.
Trauma baru maupun proses yang lama bisa tergambar jelas lewat pemeriksaan. Semakin kompleks gambaran struktur tulangnya, semakin jauh pula penelusuran ke belakangnya. Semakin simpel gambarnya, berarti kejadiannya terbilang baru.
“Ketika dewasa dan melakukan olahraga angkat beban, otot pinggang kita bisa tiba-tiba terasa tertarik sampai ke bokong. Saat pemeriksaan X-ray, akan diketahui bahwa kondisi tersebut tidak terjadi dalam satu malam. Artinya, sebetulnya pergeseran tulang sudah terjadi beberapa tahun silam akibat jatuh sewaktu kecil, tapi gejalanya baru terpicu ketika kita mengangkat beban berat, seperti saat nge-gym atau angkat galon,” kata dr. Irca.
