Nasib Ekonomi Syariah dan Industri Halal di Indonesia

Industri Halal

ASIAWORLDVIEW – Badan Manajemen Keuangan Haji (BPKH) menjadi tuan rumah dialog Indonesia News (IFN) Indonesia 2025 di Jakarta pada 26 Mei untuk membahas masa depan keuangan Islam (Syariah). Acara ini, upaya kolaboratif antara BPKH dan IFN.

Tujuannya menyatukan pemangku kepentingan utama dari berbagai sektor. Selain itu, mengeksplorasi pengembangan, tantangan, dan peluang dalam industri keuangan Syariah Indonesia.

“BPKH, bekerja sama dengan IFN, menghadirkan forum dialog internasional yang menampilkan para profesional di Syariah. Juga membangun ekosistem keuangan Islam yang lebih kuat dan terhubung secara global di negara ini,” sebutnya, dikutip Asiaworldview.com, Minggu (18/5/2025).

Baca Juga: Giliran Sertifikasi Halal di Indonesia Diprotes AS

Meskipun literasi keuangan syariah meningkat dari 39% menjadi 43,42%, inklusi keuangan syariah masih tergolong rendah, hanya 13,41%. OJK dan berbagai pihak terus berupaya meningkatkan akses masyarakat terhadap layanan keuangan syariah melalui pendekatan berbasis komunitas dan edukasi yang lebih luas

Sebagai bagian dari IFN Dialogues Series, forum ini diharapkan dapat memperkuat posisi Indonesia sebagai pusat keuangan syariah dan ekonomi halal dunia. Indonesia, dengan populasi Muslim terbesar di dunia, terus mengambil langkah strategis untuk mendorong pertumbuhan sektor ini melalui regulasi progresif dan mobilisasi sumber daya.

“Indonesia terus mengambil langkah-langkah strategis untuk mendorong pertumbuhan keuangan Syariah dan sektor ekonomi halal”, tambahnya.

Industri keuangan syariah di Indonesia terus berkembang pesat, dengan total aset mencapai Rp2.900 triliun per Maret 2025. Sektor ini mencakup perbankan syariah (Rp960 triliun), pasar modal syariah (Rp1.700 triliun), dan lembaga keuangan nonbank syariah (Rp174,7 triliun).