ASIAWORLDVIEW – Pemerintah Indonesia berencana untuk mengembangkan 300.000 hektar perkebunan aren sebagai bagian dari strategi nasional untuk mengurangi ketergantungan pada impor bahan bakar fosil. Selain itu, memperkuat industri bioetanol negara tersebut.
Hal itu diungkapkan Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni. Ia menilai potensi Indonesia dalam memajukan tujuan energi terbarukan Indonesia. Prakarsa tersebut mengikuti arahan dari Presiden Prabowo Subianto, yang telah menyatakan aren sebagai salah satu pohon favoritnya karena manfaat multifungsinya.
“Presiden Prabowo telah lama mengagumi aren — itu adalah pohon ajaib. Setiap bagiannya, dari akar hingga mahkota, memiliki nilai,” kata Menteri Raja Juli Antoni dalam sebuah pernyataan.
Baca Juga: Indonesia Mulai Kurangi Ketergantungan Impor Minyak dari Singapaura
Nira yang diekstraksi dari aren dapat diolah menjadi bioetanol berkualitas tinggi, alternatif bahan bakar yang berkelanjutan.
“Dengan budidaya yang tepat, satu hektar aren dapat menghasilkan 24.000 liter bioetanol. Jika kita menanam satu juta hektar, kita dapat mencapai swasembada energi,” jelasnya.
Pemerintah telah menetapkan target 23 persen konsumsi energi nasional tahun ini berasal dari sumber terbarukan. Presiden Prabowo menginstruksikan agar segera mencari bibit unggul dan mulai menanam.
“Satu pohon dapat menghasilkan hingga Rp 2 juta dari seratnya. Buahnya, kolang-kaling, juga berkontribusi terhadap ketahanan pangan. Akarnya yang dalam membuatnya tahan kekeringan,” pungkasnya.
