Indonesia Berambisi Kurangi Emisi Gas Rumah Kaca

Indonesia berniat mengurangi emisi gas rumah kaca menjadi 766 juta ton ekuivalen CO2 pada 2050,

ASIAWORLDVIEW – Indonesia saat ini sedang mengembangkan diri untuk mencapai tujuan iklim yang ditekankan pada Perjanjian Paris. Hal ini termasuk mencapai netralitas karbon pada

Menurut strategi LTS-LCCR 2050, Indonesia berniat mengurangi emisi gas rumah kaca menjadi 766 juta ton ekuivalen CO2 pada 2050, dengan fokus utama pada pengembangan energi terbarukan dan implementasi teknologi efisien energi.

Pada Carbon Digital Conference 2024 di Jakarta, para pakar dari penjuru dunia termasuk pemain digital inovatif terdepan, pengembang proyek karbon, investor, dan pembeli kredit karbon global, berdiskusi mengenai tantangan dan kesempatan penting di tengah dinamika ekonomi karbon. Konferensi ini menyediakan kesempatan baik untuk berjejaring, pertukaran pengetahuan, dan pengembangan inisiatif kolaborasi untuk menghadapi tantangan dan membuka kesempatan pada ekonomi karbon global.

Saat konferensi, perwakilan dari RUSAL menyampaikan kontribusi perusahaan dalam mengurangi emisi karbon baik secara domestik maupun skala global.

“Melalui statusnya sebagai negara dengan populasi terbesar keempat di dunia, Indonesia mewakili pasar berkembang yang strategis bagi RUSAL, terutama untuk sektor terkait pembangunan berkelanjutan,” demikian ungkap Kevin Kong Wen Hao, selaku Representative Director RUSAL untuk Asia Tenggara dan Taiwan.

Baca Juga: Prabowo Bawa Pulang USD18,5 Miliar dari Lawatan Pertamanya ke Luar Negeri

RUSAL adalah produsen aluminium rendah karbon terbesar di dunia, yang melacak dan mensertifikasi emisi Aluminium Rendah Karbon “dari awal hingga ke pintu gerbang”, termasuk penambangan bauksit, produksi alumina, dan transportasi bahan mentah. Aluminium memegang peranan penting pada rantai pasok global, dengan lebih dari 99 persen produksi perusahaan digerakkan oleh energi terbarukan.

Sebagai ekonomi terbesar di Asia Tenggara, Indonesia berperan penting pada ekonomi karbon global. Pemerintah juga telah menetapkan sejumlah tujuan ambisius, seperti memproduksi 600.000 kendaraan elektrik pada 2030 dan membangun energi tenaga surya skala besar.

Inisiatif ini membutuhkan bahan-bahan inovatif dan ramah lingkungan seperti aluminium rendah karbon. Hal yang digunakan banyak sektor, termasuk kendaraan listrik dan panel tenaga surya.

Pada 2023, RUSAL memproduksi aluminium rendah karbon sebanyak 4 juta ton, dengan jejak karbon beberapa tingkat di bawah rerata industri, yang dikonfirmasi oleh lembaga sertifikasi independen. Aluminium ini membantu konsumen di penjuru dunia melacak dan mengurangi emisi Scope 3 mereka.

Secara global, negara dan perusahaan mempunyai target mengurangi separuh jumlah emisi pada 2030 sesuai Perjanjian Paris. Selain itu, negara anggota ASEAN, termasuk Indonesia, telah mengatur target peningkatan porsi energi terbarukan menjadi 23 persen pada 2025.