Pakar: Donald Trump Menekan Mitra Dagang Tunduk demi Kepentingan Ekonomi AS

USD atau dolar Amerika Serikat.(freepik)

ASIAWORLDVIEW – Politik Amerika Serikat saat ini mencapai puncak polarisasi antara kubu kiri dan kanan. Perbedaan pandangan semakin tajam, terutama dalam hal kebijakan ekonomi dan perdagangan. Salah satu kebijakan utama Donald Trump adalah menerapkan tarif tinggi terhadap beberapa mitra dagang utama seperti China Meksiko, Kanada, dan Kolombia.

Ia berupaya menekan negara-negara tersebut agar tunduk pada kepentingan ekonomi AS melalui langkah-langkah proteksionis. Namun, kebijakan ini tidak hanya memicu ketegangan perdagangan internasional, tetapi juga membawa dampak signifikan terhadap ekonomi global.

Pengenaan tarif yang lebih tinggi menyebabkan gangguan pada rantai pasokan dan mendorong lonjakan harga barang, yang pada akhirnya meningkatkan inflasi ke level yang lebih tinggi. Padahal, dalam 30 bulan terakhir, inflasi mulai menunjukkan tanda-tanda stabilitas berkat kebijakan suku bunga yang diterapkan sebagai alat pengendali utama.

Baca Juga: Menkeu Sri Mulyani Tegaskan Anggaran APBN 2026 Ikut Efisiensi

Saat ini, suku bunga telah mengalami penurunan sebesar 100 basis poin (bps) dari level tertingginya, yaitu 5,5%. Level ini sebelumnya merupakan yang tertinggi sejak krisis finansial global tahun 2008. Keputusan pemangkasan suku bunga diambil oleh Federal Reserve (The Fed) sebagai respons terhadap penurunan inflasi yang signifikan, dari puncaknya di 9% menjadi 3% dalam kurun waktu 18 bulan terakhir.

Meski demikian, The Fed tetap berhati-hati dalam mengambil langkah lebih lanjut. Para pejabat bank sentral masih menunggu inflasi mencapai target 2% sebelum mempertimbangkan pemangkasan suku bunga tambahan. Dengan inflasi yang masih bertahan di level 3%, kebijakan moneter saat ini kemungkinan besar akan tetap dipertahankan tanpa adanya pemangkasan lebih lanjut dalam waktu dekat.

Bagi investor yang bergelut dalam aset berisiko seperti saham dan kripto, harapan mereka adalah suku bunga dapat terus turun hingga ke level 2,5%, atau dengan kata lain, pemangkasan tambahan sebesar 200 bps dari posisi saat ini. Suku bunga yang lebih rendah akan memberikan dorongan bagi pasar keuangan, meningkatkan likuiditas, serta memperkuat daya beli konsumen.

Namun, kebijakan ekonomi yang dijalankan oleh Donald Trump, khususnya terkait penerapan tarif impor, berpotensi menggagalkan skenario tersebut. Jika kebijakan tarif yang agresif terus diterapkan, bukan tidak mungkin The Fed justru akan mengambil langkah sebaliknya, yaitu menaikkan kembali suku bunga untuk mengendalikan dampak inflasi yang timbul akibat kebijakan proteksionis tersebut.