ASIAWORLDVIEW – Pandemi COVID-19 mengubah pola hidup masyarakat. Transformasi digital pun terjadi secara besar-besaran, termasuk dalam bidang kesehatan. Akibat “jaga jarak”, telehealth atau telemedicine pun menjadi andalan masyarakat.
Kini, meski status pandemi COVID-19 telah dicabut, masyarakat masih memilih layanan kesehatan online. Pengalaman ini membantu membangun kepercayaan terhadap telehealth sebagai alat yang dapat diandalkan untuk menjaga kesehatan secara keseluruhan.
“Selama Pandemi COVID-19, banyak orang yang pertama kali merasakan manfaat telehealth. Mereka yang memiliki pengalaman positif dengan layanan virtual untuk layanan pencegahan kemungkinan besar akan terus menggunakan telehealth kata Suwandi Ahmad, Chief Data Officer, Lokadata dalam acara Healthech: Melampaui Batas Inovasi, Rabu (22/1/2025).
Baca Juga: Fakta: Ketimpangan Layanan Kesehatan Terjadi di Indonesia
Telehealth memberdayakan individu untuk mengambil peran lebih aktif dalam kesehatan mereka. Platform seperti HaloDoc memungkinkan pasien menjadwalkan janji temu, mengakses materi pendidikan, dan memantau kemajuan mereka secara real time.
“Kenyamanan dan kontrol yang ditawarkan telehealth memudahkan masyarakat untuk memprioritaskan pencegahan dan membuat pilihan gaya hidup sehat, seperti konseling nutrisi, saran kebugaran, dan pemeriksaan pencegahan,” ia menjelaskan.
Selain itu, pentingnya pencegahan telah menjadikan telehealth sebagai bagian dari layanan kesehatan pasca-COVID-19. Hal ini telah menjadi alat yang berharga untuk menjaga kesehatan, khususnya untuk perawatan preventif, dan kemungkinan akan tetap menjadi komponen kunci dari sistem layanan kesehatan di Indonesia.
“Telehealth memberikan kenyamanan, aksesibilitas, efektivitas biaya, dan waktu membuat masyarakat memilih layanan ini,”ia menambahkan.
