Indonesia Masuk BRICS Pengaruhi Investor dari AS?

USD atau Dolar Amerika Serikat

ASIAWORLDVIEW – Keanggotaan Indonesia dalam BRICS menimbulkan kekhawatiran karena berpotensi memprovokasi Amerika Serikat. BRICS, yang kini merupakan blok 10 negara, juga mempertemukan Brasil, India, Afrika Selatan, Mesir, Etiopia, Iran, dan Uni Emirat Arab (UEA).

AS – negara adidaya ekonomi global dan sumber besar investasi asing langsung (FDI) Indonesia – baru saja menyaksikan kembalinya Donald Trump, pengkritik utama BRICS, ke Gedung Putih. Trump sebelumnya mengancam akan mengenakan tarif 100 persen pada barang-barang tujuan AS yang berasal dari negara-negara BRICS jika kelompok tersebut menciptakan mata uang yang menyaingi dolar. Dia mengulangi ancaman tarif lagi tak lama setelah mengambil sumpah jabatannya.

Baca Juga: Indonesia Gabung dengan BRICS, Peluang Industri Kripto Juga Terbuka Lebar

“Dalam diskusi yang saya lakukan dengan perusahaan USABC, mereka tidak terlalu khawatir tentang Indonesia menjadi anggota BRICS. Perusahaan terkadang ingin melakukan diversifikasi. Jadi mereka tidak melihat adanya dampak finansial secara langsung,” Brian McFeeters, wakil presiden senior dan direktur pelaksana regional USABC, mengatakan kepada wartawan di Jakarta.

Meskipun Trump bersikap keras terhadap BRICS, perusahaan-perusahaan Amerika tampaknya tidak memiliki kekhawatiran yang sama, menurut Dewan Bisnis AS-ASEAN (USABC).

“Sejauh ini tidak ada masalah yang saya dengar dari perusahaan,” tambahnya.