ASIAWORLDVIEW – Pengangguran adalah salah satu masalah yang paling mendesak di Indonesia. Meskipun ekonomi Indonesia tumbuh dengan stabil, pengangguran masih menjadi tantangan utama bagi negara ini.
Menurut laporan Bank Dunia tahun 2023, sekitar 30% pekerjaan di sektor manufaktur dan pertanian di Indonesia berisiko digantikan oleh otomasi dalam 10-20 tahun ke depan. Ini adalah kabar buruk bagi tenaga kerja yang tidak terampil, karena mereka akan semakin sulit mendapatkan pekerjaan di masa depan.
Seiring dengan perkembangan teknologi dan otomatisasi, banyak industri yang beralih menggunakan mesin dan teknologi canggih. AKhirnya, mengurangi kebutuhan tenaga kerja manual. Di sektor manufaktur, misalnya, penggunaan robot dan teknologi otomasi telah mengurangi kebutuhan akan pekerja berketerampilan rendah.
Baca Juga: Proyek Ambisius, Prabowo Targetkan Pertumbuhan Ekonomi hingga 8 Persen
Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) pada Februari 2024, tingkat pengangguran terbuka (TPT) berada di angka 5,86%. Angka ini mungkin terdengar kecil, tetapi dengan jumlah penduduk lebih dari 270 juta jiwa, jumlah pengangguran mencapai sekitar 8,4 juta jiwa.
Faktor lain tingginya angka pengangguran di Indonesia adalah ketidaksesuaian antara keterampilan yang dimiliki oleh para pencari kerja dengan kebutuhan industri. Indonesia memiliki sekitar 14 juta tenaga kerja baru setiap tahunnya, namun sayangnya banyak dari mereka yang tidak memiliki keterampilan yang sesuai dengan permintaan pasar kerja. Menurut data dari Kementerian
Ketenagakerjaan, sekitar 50% dari tenaga kerja yang tersedia adalah lulusan sekolah menengah yang tidak memiliki keterampilan teknis atau kejuruan. Sementara itu, industri utama seperti teknologi informasi, manufaktur, dan jasa membutuhkan pekerja dengan keterampilan khusus seperti coding, manajemen data, dan teknisi mesin. Akibatnya, banyak lulusan yang tidak dapat diserap oleh pasar kerja karena keterampilan mereka tidak sesuai dengan yang dibutuhkan.
.
