Posisi Kelas Menengah di Indonesia, Terjepit Masalah Ekonomi hingga Diperas untuk Pajak

Rupiah.(freepik)

ASIAWORLDVEW – Kelas menengah di Indonesia memainkan peran penting dalam mendukung pertumbuhan ekonomi nasional melalui pengeluaran mereka. Menumbuhkan demografi ini sangat penting untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Kenaikan pajak dan berbagai biaya hidup lainnya memberikan tekanan pada daya beli, yang telah dilemahkan oleh inflasi, dikutip dari DW.

Penelitian yang diterbitkan pada Agustus 2024 oleh Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Universitas Indonesia (LPEM-UI) menunjukkan bahwa daya beli kelas menengah dan calon kelas menengah di Indonesia telah menurun selama lima tahun terakhir.

Mereka sekarang perlu mengalokasikan lebih banyak anggaran untuk makanan. Mereka mengeluarkan lebih sedikit uang untuk hal-hal lain.

“Pengeluaran non-makanan, seperti untuk barang tahan lama, kesehatan, pendidikan, dan hiburan, lebih mengindikasikan daya beli dan kesejahteraan ekonomi,” kata laporan tersebut.

Baca Juga: OJK Soroti Literasi Keuangan Generasi Muda di Indonesia

Selain inflasi, perlambatan ekonomi global secara keseluruhan telah memicu pemutusan hubungan kerja (PHK) besar-besaran di Indonesia dalam dua tahun terakhir, dan para pekerja kelas menengah di Indonesia mungkin akan mengalami penurunan lebih lanjut dalam pendapatan mereka tahun depan.

Kebijakan-kebijakan yang cenderung menekan daya beli kelas menengah mungkin perlu dipertimbangkan kembali. Mulai 1 Januari 2025, pemerintah berencana menaikkan pajak pertambahan nilai dari 10% menjadi 12%.

Selain itu, akan ada kenaikan harga bahan bakar dan energi, serta kenaikan premi bulanan untuk asuransi kesehatan nasional dan biaya kereta komuter yang lebih tinggi, yang akan mempengaruhi jutaan orang Indonesia yang mengandalkan moda transportasi ini setiap hari.

“Pengeluaran-pengeluaran ini cenderung meningkat seiring dengan pendapatan yang dapat dibelanjakan dan merupakan pendorong utama pertumbuhan ekonomi,” tambahnya.

“Meningkatnya pangsa pengeluaran untuk makanan menunjukkan penurunan daya beli kelas menengah. Erosi daya beli ini mengkhawatirkan karena berdampak pada konsumsi agregat, pendorong penting dari pertumbuhan ekonomi Indonesia baru-baru ini,” kata laporan itu.