ASIAWORLDVIEW – Munculnya teknologi keuangan, pembayaran digital, dan platform investasi online memberikan peluang besar, namun juga meningkatkan risiko, termasuk penipuan dan perilaku konsumtif impulsif. Literasi keuangan memungkinkan Gen Z dan Milenial untuk membuat keputusan keuangan yang tepat, mengelola keuangan dengan bijak, dan berinvestasi untuk masa depan.
Hal itu diungkapkan Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha, Edukasi, dan Perlindungan Konsumen Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Friderica Widyasari Dewi. Ia menekankan bahwa literasi keuangan adalah kunci untuk melindungi generasi muda dari kejahatan finansial. Ia mengajak Gen Z untuk memanfaatkan produk dan layanan keuangan secara bijak sebagai bagian dari perencanaan keuangan jangka panjang.
“Literasi keuangan yang baik serta inklusi keuangan yang bijaksana akan menjadikan generasi muda lebih cerdas dalam mengelola keuangan, terhindar dari kejahatan finansial, dan mampu menjadi agen literasi di tengah masyarakat,” ujar Friderica dalam acara Literasi Keuangan “Make Money Skills for New Generation”, Selasa (15/10/2024).
Baca Juga: Beda dengan Crypto dan Bitcoin, Ini Fakta Soal NFT
Meskipun penetrasi pengguna internet di Indonesia telah mencapai 196,71 juta orang, masih terdapat kesenjangan antara inklusi dan literasi keuangan. Menurut Otoritas Jasa Keuangan (OJK), indeks literasi keuangan pada tahun 2023 berada di angka 65,43%, menunjukkan masih adanya ruang untuk perbaikan. Menariknya, meskipun inklusi keuangan lebih tinggi di kalangan Gen Z, tingkat literasi mereka masih tertinggal, menekankan perlunya edukasi yang lebih mendalam tentang manajemen keuangan.
Revolusi digital juga memperkenalkan jenis kejahatan finansial baru, yang sering kali diperparah oleh sifat lintas batas platform digital dan sulitnya penegakan hukum. Dengan kejahatan siber yang menjadi ancaman besar, khususnya bagi generasi muda yang melek teknologi, penting bagi mereka untuk tidak hanya memanfaatkan layanan keuangan digital, tetapi juga tetap waspada terhadap potensi penipuan.
Dengan Gen Z yang mencakup 27,94% dari populasi Indonesia, kelompok ini memiliki pengaruh besar terhadap perekonomian. Banyak generasi muda menghadapi tekanan sosial seperti YOLO (you only live once), FOMO (fear of missing out), dan FOPO (fear of other people’s opinions), yang sering kali memicu gaya hidup konsumtif yang merugikan keuangan mereka.
Literasi ekonomi sangat penting bagi kaum muda karena mereka bisa memahami konsep-konsep ekonomi dasar membantu kaum muda membuat keputusan yang tepat tentang pengeluaran, menabung, dan berinvestasi. Selain itu, berfungsi untuk menavigasi pasar, memahami harga, dan mengenali nilai, sehingga memberdayakan mereka sebagai konsumen.
Mempelajari cara membuat dan mengelola anggaran sangat penting untuk stabilitas keuangan dan menghindari utang. Pengetahuan tentang rekening tabungan, suku bunga, dan pilihan investasi mendorong perencanaan keuangan yang cerdas.
Literasi keuangan tentang prinsip-prinsip ekonomi membantu kaum muda mengenali risiko utang dan pentingnya perencanaan keuangan. Bahkan, memahami strategi investasi dan instrumen keuangan dapat mengarah pada akumulasi kekayaan jangka panjang dan keamanan finansial.
Membina literasi ekonomi di kalangan anak muda membekali mereka dengan perangkat yang mereka butuhkan untuk menavigasi lanskap keuangan, membuat pilihan yang tepat, dan terlibat secara aktif dalam komunitas mereka. Pengetahuan dasar ini sangat penting untuk kesuksesan pribadi dan berkontribusi pada ekonomi yang lebih sehat secara keseluruhan.
