WCCE 2026 Dorong Ekonomi Kreatif yang Inklusif dan Berkelanjutan

Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya

ASIAWORLDVIEW – Kementerian Ekonomi Kreatif resmi meluncurkan World Conference on Creative Economy (WCCE) 2026, dengan fokus pada kolaborasi untuk membangun ekosistem kreatif yang inklusif. Langkah ini dilakukan untuk memastikan akses setara terhadap peluang dan manfaat ekonomi bagi semua peserta.

Berbicara pada pembukaan WCCE 2026 di Jakarta, Rabu (21/10/2026), Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya menyatakan bahwa inklusivitas adalah prinsip inti dalam pengembangan ekonomi kreatif, baik di tingkat nasional maupun global. Menurutnya, kreativitas dapat menjadi jembatan untuk mengatasi kesenjangan ekonomi dan budaya, sekaligus membuka pintu bagi lebih banyak individu dan kelompok untuk berkembang.

“Sejak awal, WCCE memiliki visi yang sama: membangun kolaborasi internasional dan memajukan ekonomi kreatif sebagai pendorong pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan,” katanya.

Baca Juga: Konferensi Ekonomi Kreatif Dunia 2026 Jadi Panggung Produk Lokal

Ia menekankan bahwa pengembangan ekonomi kreatif harus memastikan akses yang adil terhadap peluang. Alhasil manfaat dari pertumbuhan sektor tersebut dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat.

Untuk mewujudkan visi tersebut, WCCE 2026 mengusung semangat “collective continuity”, yakni transmisi nilai, keyakinan, dan identitas budaya yang berkelanjutan melalui kolaborasi lintas batas dan generasi.

“Ini berfungsi sebagai platform bagi para pemangku kepentingan ekonomi kreatif untuk berbagi perspektif, bertukar pengalaman, dan merumuskan arah masa depan sektor tersebut,” ia menambahkan.

Ia mengatakan bahwa masa depan ekonomi kreatif harus memanfaatkan teknologi dan AI untuk mendorong kreativitas manusia, mengadopsi praktik sirkular dan regeneratif untuk keberlanjutan, serta melindungi kekayaan intelektual untuk memastikan pencipta menerima bagian yang lebih adil dari nilai ekonomi.

“Ekosistem kreatif harus inklusif dan memberdayakan masyarakat, sementara perlindungan kekayaan intelektual melindungi pencipta dan memastikan mereka menerima bagian yang lebih adil dari nilai yang dihasilkan,” pungkasnya.

Ia menambahkan bahwa visi ini tidak boleh hanya menjadi dokumen atau kesepakatan, melainkan harus menjadi fondasi bagi tindakan konkret dan kolaborasi yang berkelanjutan. Karena itu, dialog dalam WCCE diharapkan menghasilkan wawasan dan komitmen yang memperkuat posisi ekonomi kreatif dalam agenda pembangunan global.

Sejak diinisiasi oleh Indonesia pada 2018, WCCE telah berfungsi sebagai platform internasional untuk membahas peluang dan tantangan yang dihadapi ekonomi kreatif. Forum ini telah berkontribusi pada beberapa tonggak penting, termasuk Bali Agenda for the Creative Economy, serta resolusi Perserikatan Bangsa-Bangsa yang diadopsi pada 2019 dan 2023.

Melalui WCCE 2026, Indonesia kembali mendorong kolaborasi internasional untuk membangun masa depan ekonomi kreatif yang tidak hanya berfokus pada pertumbuhan, tetapi juga memastikan akses yang adil, keberlanjutan, dan distribusi manfaat yang lebih merata bagi semua pihak yang terlibat. WCCE 2026 akan berlangsung di Kempinski Hotel Jakarta, dengan agenda pertemuan bilateral dan pertemuan menteri pada 21–23 Oktober 2026. Selain itu, sebuah “Creative Village” akan didirikan di kawasan SCBD pada 21–25 Oktober 2026 untuk menampilkan produk-produk kreatif dari para kreator Indonesia.

One thought on “WCCE 2026 Dorong Ekonomi Kreatif yang Inklusif dan Berkelanjutan”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *