Ubud Art Ground 2026 Resmi Dibuka di Satyanara, Menjelajahi Kosmologi Warna Bali

ASIAWORLDVIEW – Bagi para pencinta seni dan budaya, akhir tahun 2026 menghadirkan kabar gembira: Ubud Art Ground 2026 resmi dibuka untuk umum mulai 23 Oktober 2026 hingga 24 Januari 2027. Mengusung tema “Letters to Colour (Surat-Surat kepada Warna)”, perhelatan tahunan ini menjadi salah satu dari tiga pameran pembuka di Satyanara, sebuah destinasi seni terpadu di Kedewatan, Ubud, yang dinaungi oleh Yayasan Satya Djaya Raya.

Ubud Art Ground 2026 berangkat dari penelitian Gurat Institute yang dituangkan dalam buku Warna Bali (2025), yang menelusuri kosmologi dan spiritualitas warna dalam tradisi Bali, termasuk penerapannya dalam arsitektur dan ritual. Dalam tulisannya, Hendro Wiyanto Budiman dan Putu Sridiniari membawa pembahasan tersebut ke praktik seni rupa.

Warna dilihat bukan sekadar pelengkap karya, tetapi bagian dari proses berpikir, pengambilan keputusan, dan kesadaran kreatif seniman. Melalui karya dan surat personal dari 33 seniman yang dipamerkan, pengunjung diajak melihat lebih dekat hubungan antara warna dan proses kreatif. Surat-surat tersebut menjadi cara para seniman mengungkapkan pengalaman, pilihan, dan eksplorasi mereka terhadap warna yang kerap luput ketika perhatian hanya tertuju pada tema atau pesan sebuah karya.

“Bagi kami, seni bukan sekadar sesuatu untuk dilihat. Seni adalah cara untuk memahami satu sama lain, mengenal budaya yang berbeda, mempertanyakan apa yang selama ini kita pahami, dan menemukan perspektif yang mungkin belum pernah kita pikirkan sebelumnya,” jelas Yulia Kurniawan, Direktur Yayasan Satya Djaya Raya, dalam sambutan pembukaannya.

Baca Juga: Satyanara Hadir di Bali, Ciptakan Ruang Pertukaran Gagasan Seni dan Budaya

Edisi kedua ini merupakan kelanjutan dari edisi perdana tahun lalu yang diadakan sebagai penanda awal pembangunan Satyanara—sebuah kawasan yang tidak hanya menawarkan galeri, tetapi juga amfiteater, ruang workshop, studio, fasilitas residensi seniman, kafe, dan area retail. Semua fasilitas ini dilengkapi dengan program sepanjang tahun, mulai dari pameran, diskusi, workshop, pemutaran film, hingga pertunjukan yang dirancang untuk mempertemukan seniman, peneliti, komunitas, kolektor, institusi, dan masyarakat luas dalam berbagai bentuk pertukaran dan kolaborasi.

“Melalui Satyanara, kami berharap seni, budaya, dan warisan dapat menjadi ruang perjumpaan antargenerasi; tempat pengalaman dan tradisi bertemu dengan perspektif baru, melahirkan percakapan yang terus hidup dan berkembang.”

Selain Ubud Art Ground 2026 yang berada di Galeri Nara 2, Satyanara juga menghadirkan dua pameran paralel di ruang galeri lainnya. Di Galeri Nara 3, pameran Fluid Kinship: Chapter Indonesia yang dikuratori oleh Mella Jaarsma dan Yipei Lee mengangkat tema Watershed hingga 30 April 2027, sebelum berganti tema Foodscape dan Human Tectonics. Melalui beragam karya dan instalasi, pengunjung diajak melihat air dan pangan bukan semata-mata sebagai sumber daya, melainkan sebagai bagian dari sistem kehidupan yang membentuk hubungan sosial dan budaya—seperti sistem Subak di Bali yang tidak hanya berkaitan dengan pengelolaan air dan pertanian, tetapi juga memperlihatkan keterkaitan antara pengetahuan lokal, praktik ritual, kehidupan sosial, dan keberlanjutan lingkungan.

Pameran ini juga mengangkat pertanyaan mengenai keberlanjutan ekologis dan bagaimana manusia dapat membangun kembali kedekatan dengan lingkungannya di tengah tantangan perubahan iklim. Sebelum hadir di Satyanara, pameran ini sebelumnya tampil di Gemeinde, Cologne, Jerman, pada 7–29 Agustus 2026.

Berlokasi di kawasan perbukitan Kedewatan, di atas Sungai Ayung dan dikelilingi persawahan, Satyanara terbuka bagi pengunjung dengan berbagai tingkat ketertarikan terhadap seni—mulai dari wisatawan, komunitas sekitar, seniman, kolektor, peneliti, hingga perwakilan institusi lain. Melalui fasilitas dan program yang terintegrasi, Satyanara berupaya mendukung pengembangan praktik seni serta membangun ekosistem seni dan budaya yang terus tumbuh bersama generasi berikutnya. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *