Tasya Farasya: Bukan Sekadar Jual Produk, MOP Beauty Dukung Ekosistem Inklusif dan Berkelanjutan

Tasya Farasya.

ASIAWORLDVIEW – Produk kecantikan tidak hanya berfokus pada pengembangan, tetapi juga mengedepankan nilai inklusivitas dan kontribusi nyata terhadap ekosistem ekonomi kreatif yang lebih luas. Misalnya, Mother of Pearl Beauty oleh Tasya Farasya.

“Mother of Pearl berupaya menghadirkan berbagai pilihan warna produk yang disesuaikan dengan keragaman warna kulit masyarakat Indonesia,” ia mengatakan dalam  acara “Local Roots of the Rise: How Local Brands Win the Market”, Jumat (23/10/2026).

Langkah ini dilakukan agar konsumen tidak lagi kesulitan menemukan shade yang sesuai dengan karakteristik kulit mereka. Selama ini, produk yang bedear sering dikritik karena terbatasnya pilihan shade untuk kulit sawo matang hingga gelap, pendekatan ini terasa seperti angin segar—bukan hanya dari sisi komersial, tetapi juga dari sisi representasi.

“Indonesia memiliki spektrum warna kulit yang sangat beragam sehingga kebutuhan akan produk yang representatif menjadi hal penting. Karena itu, Mother of Pearl Beauty terus mengembangkan variasi warna yang lebih luas agar semakin banyak masyarakat merasa terwakili dan nyaman menggunakan produknya,” ia menambahkan.

Selain itu, Mother of Pearl Beauty tidak hanya menjual produk, tetapi juga membangun rasa diterima. Ini menjadi esuatu yang sangat berharga bagi konsumen yang selama ini merasa terpinggirkan oleh standar kecantikan yang sempit.

Baca Juga: Dari Pasar Domestik ke Global, Brand Lokal Punya Peluang Naik Kelas

Tidak hanya berhenti pada aspek produk, Tasya juga menyoroti kontribusi perusahaan dalam mendukung keberlanjutan lingkungan. Salah satu program yang paling ia banggakan adalah kerja sama dengan Reposystem untuk mengelola limbah kemasan produk kecantikan.

Melalui kolaborasi tersebut, masyarakat dapat mengumpulkan dan menyerahkan kemasan produk makeup bekas. Kemudian diproses melalui program daur ulang dan upcycle.

Menariknya, program ini tidak terbatas pada produk Mother of Pearl Beauty saja, melainkan terbuka untuk kemasan dari berbagai merek kosmetik lainnya. Menurut Tasya, pendekatan ini tidak hanya membantu mengurangi limbah kecantikan yang jumlahnya terus meningkat, tetapi juga menciptakan peluang ekonomi baru melalui pemanfaatan kembali material yang sebelumnya dianggap tidak bernilai.

“Langkah ini menunjukkan bahwa sebuah brand kecantikan bisa mengambil tanggung jawab yang lebih besar daripada sekadar menjual produk,” tambahnya.

Selain kontribusi terhadap lingkungan, Tasya menekankan bahwa pertumbuhan Mother of Pearl Beauty juga berdampak langsung terhadap terciptanya kesempatan ekonomi bagi banyak pihak. Ia menyebut jaringan afiliasi yang telah berkembang hingga puluhan ribu orang menjadi salah satu contoh nyata bagaimana sebuah brand dapat mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif secara berkelanjutan.

Semakin berkembang perusahaan dan semakin banyak produk yang diluncurkan, maka semakin besar pula kebutuhan terhadap berbagai profesi kreatif seperti content creator, videografer, editor video, fotografer, hingga tim produksi lainnya. Dengan demikian, pertumbuhan bisnis tidak hanya dirasakan oleh perusahaan, tetapi juga oleh para pelaku industri kreatif yang menjadi bagian dari rantai ekosistem tersebut.

“Konsep ekonomi kreatif sejatinya adalah tentang pertumbuhan yang saling menguatkan. Ketika sebuah bisnis berkembang, bisnis tersebut juga harus mampu membuka ruang bagi pihak lain untuk ikut bertumbuh. Keberhasilan Mother of Pearl Beauty bukan semata-mata diukur dari penjualan atau ekspansi bisnis, melainkan juga dari sejauh mana perusahaan mampu menciptakan dampak positif bagi lingkungan, memberdayakan komunitas, serta membuka peluang usaha dan lapangan kerja bagi lebih banyak orang,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *