Rupiah Melemah ke Rp17.900, Terdalam di Asia

Rupiah

ASIAWORLDVIEW – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka melemah signifikan pada Kamis (24/9/2026). Bahkan, langsung memimpin pelemahan di antara mata uang Asia. Rupiah di pasar spot tertekan ke level Rp17.864 per dolar AS pada pembukaan, melemah 46 poin atau 0,26 persen dibandingkan penutupan hari sebelumnya di level Rp17.818.

Tekanan jual berlanjut dengan cepat, hanya dalam beberapa menit, rupiah menembus Rp17.871 (melemah 0,3 persen), lalu Rp17.899 pada pukul 09.10 WIB, dan akhirnya menyentuh Rp17.900 per dolar AS pada pukul 02.20 GMT—level pelemahan terdalam di Asia dengan koreksi 0,59 persen dibandingkan posisi sebelumnya di Rp17.795. Berdasarkan data Refinitiv, rupiah bahkan sempat mengawali perdagangan di Rp17.835 sebelum akhirnya terdepresiasi lebih jauh.

Pelemahan rupiah pada hari itu didorong oleh kombinasi sentimen eksternal dan domestik yang saling memperkuat. Analis Doo Financial, Lukman Leong, menilai bahwa salah satu pemicu utama adalah lonjakan harga minyak mentah dunia setelah Iran meragukan kemajuan dalam perundingan perdamaian dengan AS.

Baca Juga: Rekening Bank Gratis untuk Warga 17+ Tidak Diluncurkan Tahun Ini

Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman November naik 1,81 persen menjadi USD92,16 per barel, sementara minyak mentah Brent melonjak 3,86 persen ke USD103,08 per barel. Kenaikan harga minyak ini menambah tekanan inflasi global dan memperburuk posisi neraca perdagangan Indonesia sebagai negara net importir minyak, sehingga memperlemah daya tarik rupiah.

Selain itu, penguatan dolar AS turut menjadi faktor dominan. Ekspektasi pasar bahwa Federal Reserve (The Fed) akan kembali menaikkan suku bunga dalam waktu dekat semakin meningkat, dengan probabilitas kenaikan 25 basis poin pada bulan Oktober mencapai 70 persen, dan lebih dari 50 persen peluang kenaikan lanjutan pada bulan Desember. Sentimen ini mendorong investor global untuk beralih ke aset dolar AS yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi, sehingga menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Dari dalam negeri, keputusan Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga acuan BI-Rate di level 5,75 persen pada Rapat Dewan Gubernur sebelumnya menjadi sentimen yang juga diperhatikan pasar. Meskipun kebijakan ini memberikan stabilitas jangka pendek, pasar tampaknya masih menanti sinyal lebih kuat dari otoritas moneter untuk menahan laju pelemahan rupiah di tengah ketidakpastian global yang meningkat. Analis memperkirakan rupiah akan bergerak dalam kisaran Rp17.800 hingga Rp17.950 per dolar AS sepanjang hari tersebut.

Pelemahan rupiah juga sejalan dengan tren regional. Hampir seluruh mata uang Asia tertekan pada hari yang sama, meskipun rupiah mencatat pelemahan terdalam. Won Korea Selatan turun 0,36–0,55 persen, dolar Taiwan melemah 0,36–0,38 persen, ringgit Malaysia terkoreksi 0,24–0,25 persen, dan peso Filipina turun 0,10–0,23 persen. Hanya yen Jepang yang justru menguat terhadap dolar AS pada pagi itu. Secara kumulatif sepanjang tahun 2026, rupiah memang mencatat pelemahan yang cukup dalam, yaitu sekitar 6,11 persen terhadap dolar AS, lebih besar dibandingkan rupee India (5,81 persen) dan peso Filipina (4,79 persen).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *