Rupiah Konsolidasi, Pasar Wait and See Jelang Data BI

Rupiah

ASIAWORLDVIEW – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menunjukkan pergerakan yang relatif sempit di sekitar level Rp17.640 hingga Rp17.650 per dolar AS pada Senin (7/9/2026). Berdasarkan data dari berbagai platform keuangan, rupiah di pasar spot dibuka pada level yang berbeda-beda.

Data dari Refinitiv menunjukkan angka Rp17.646, dan sumber lain menyebutkan Rp17.650. Meskipun ada variasi kecil, mayoritas sumber sepakat bahwa rupiah melemah tipis, umumnya terdepresiasi sekitar 0,02% hingga 0,05% dibandingkan penutupan perdagangan Jumat pekan lalu di level Rp17.642.

Pelemahan ini menjadikan rupiah sejalan dengan mayoritas mata uang di kawasan Asia, di mana peso Filipina melemah 0,15%, dolar Singapura dan baht Thailand masing-masing turun 0,06%, serta ringgit Malaysia dan yuan China juga terkontraksi tipis. Di sisi lain, terdapat pula laporan yang menyebutkan rupiah justru berhasil terapresiasi 0,11% ke posisi Rp17.610 per dolar AS pada pembukaan perdagangan, yang menunjukkan adanya perbedaan data antar penyedia atau pergerakan harga yang sangat dinamis di awal sesi perdagangan.

Baca Juga: Detik-Detik Destry Damayanti Resmi Dilantik Jadi Gubernur Bank Indonesia

Pelemahan rupiah pada hari itu terutama dipicu oleh dua faktor eksternal utama. Pertama, meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang mendorong penguatan indeks dolar AS (DXY) dan melonjaknya harga minyak mentah dunia. Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) tercatat di kisaran 91,92 dolar AS per barel.

Minyak mentah Brent berada di sekitar 96,55 dolar AS per barel. Kenaikan harga minyak ini meningkatkan kebutuhan valuta asing Indonesia untuk membiayai impor minyak yang lebih mahal, sehingga memberikan tekanan tambahan pada rupiah. Kedua, data tenaga kerja AS yang dirilis pada Jumat lalu jauh lebih kuat dari perkiraan, di mana Nonfarm Payrolls (NFP) Agustus 2026 melonjak sebanyak 162.000.

Pelemahan rupiah karena adanya sentimen positif yang menahan laju depresiasi. Pelaku pasar memilih untuk wait and see menantikan rilis data cadangan devisa (cadev) Indonesia periode Agustus 2026 yang dijadwalkan oleh Bank Indonesia pada pukul 10.00 WIB. Data yang kemudian dirilis menunjukkan bahwa cadangan devisa Indonesia naik ke level tertinggi dalam lima bulan, yaitu USD146,5 miliar, naik dari posisi Juli sebesar USD145,3 miliar.

Posisi cadangan devisa ini setara dengan pembiayaan sekitar 5,5 bulan impor, yang masih jauh di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor. Cadangan devisa yang kuat ini menopang kepercayaan terhadap rupiah dan aset keuangan domestik, serta memberikan ruang bagi Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas nilai tukar di tengah tantangan eksternal. Selain itu, dari sisi eksternal, dolar AS masih kesulitan mempertahankan penguatannya meskipun ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed meningkat, karena kekhawatiran terhadap utang pemerintah AS yang terus membengkak dan ketidakpastian arah kebijakan masih membebani greenback.

Chief Economist Permata Bank Josua Pardede menambahkan bahwa data tenaga kerja AS yang kuat meningkatkan probabilitas kenaikan suku bunga The Fed. Namun pelemahan diperkirakan terbatas seiring dengan sikap wait and see investor menjelang data cadangan devisa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *