Rupiah Kembali Tertekan, Sentuh Kisaran 17.900 di Tengah Lonjakan Harga Minyak

Rupiah

ASIAWORLDVIEW – Nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS dibuka melemah pada Selasa (13/102026), secara umum bergerak di bawah tekanan dalam kisaran 17.939 hingga 17.948 Rupiah per 1 Dolar AS. Sentimen pasar yang cenderung defensif. Pergerakan ini melanjutkan pola pelemahan pada sesi perdagangan sebelumnya, yang mencerminkan tekanan ganda terhadap Rupiah akibat risiko geopolitik eksternal dan tekanan fiskal domestik.

Data pembukaan hari itu menunjukkan bahwa nilai tukar spot Rupiah pada pukul 09.00 pagi berada di kisaran 17.939 hingga 17.948 Rupiah per dolar AS, melemah sekitar 26 hingga 35 poin dibandingkan penutupan hari perdagangan sebelumnya di level 17.913 Rupiah, dengan penurunan antara 0,15% hingga 0,20%.

Terdapat perbedaan kecil dalam penawaran dari berbagai sumber data; data Bloomberg menunjukkan kisaran 17.945 hingga 17.948 rupiah, sementara Refinitiv sempat melaporkan 17.920 rupiah, yang mencerminkan fluktuasi yang cukup signifikan selama sesi perdagangan. Para analis pasar umumnya memperkirakan kisaran pergerakan hari itu antara 17.850 hingga 18.000 rupiah, dan memperkirakan penutupan mungkin berada di kisaran yang relatif lemah antara 17.910 hingga 17.960 rupiah.

Baca Juga: Singapore Gulf Bank Percepat Pembayaran Lintas Batas Real-Time

Dari segi faktor eksternal, memanasnya situasi geopolitik di Timur Tengah menjadi pendorong utama yang menekan nilai tukar rupiah pada hari itu. Kelompok Houthi di Yaman melancarkan serangan terhadap Bandara Internasional Riyadh di Arab Saudi, yang mengakibatkan korban jiwa, sementara fasilitas Aramco juga terancam. Pihak Amerika Serikat menyatakan sedang mempertimbangkan untuk bergabung dalam operasi militer melawan kelompok Houthi; rangkaian peristiwa ini memperparah kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan minyak mentah di Timur Tengah.

Akibatnya, harga minyak mentah internasional melonjak tajam, dari sekitar 90 dolar AS per barel sempat menyentuh level 94 dolar AS, sebelum kemudian turun kembali ke sekitar 92,60 dolar AS. Bagi Indonesia sebagai negara pengimpor bersih minyak mentah, kenaikan harga minyak secara langsung memperburuk prospek neraca perdagangan, sekaligus meningkatkan tekanan subsidi fiskal—berdasarkan perhitungan, setiap kenaikan harga minyak sebesar 1 dolar AS per barel akan menambah beban anggaran negara sekitar 6 triliun rupiah. Selain itu, pejabat Federal Reserve (The Fed) terus mengirimkan sinyal hawkish belakangan ini; baik

Dari sisi domestik, kekhawatiran investor terhadap kondisi fiskal juga menjadi sumber tekanan. Defisit anggaran negara hingga September 2026 telah mencapai 319 triliun rupiah, setara dengan 1,24% dari PDB, yang secara signifikan melebar dibandingkan dengan 0,9% pada bulan Agustus. Meskipun pendapatan fiskal tumbuh 25,5% secara tahunan, laju pertumbuhan belanja mencapai 19%, dan tanda-tanda menyempitnya ruang fiskal membuat pasar tetap waspada.

Di saat yang sama, ancaman bahwa MSCI mungkin akan menurunkan peringkat pasar saham Indonesia menjadi pasar frontier belum sirna, yang memperparah tekanan arus keluar modal di pasar saham, sehingga secara tidak langsung membebani nilai tukar rupiah. Namun, terdapat pula beberapa faktor penyeimbang yang berperan: imbal hasil obligasi pemerintah Indonesia tetap relatif stabil, dengan imbal hasil obligasi pemerintah bertenor 10 tahun turun tipis 1 basis poin menjadi 7,20%, yang menunjukkan bahwa pasar obligasi belum mengalami repricing besar-besaran, sehingga dalam batas tertentu mencegah rupiah mengalami penurunan yang lebih dalam.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *