ASIAWORLDVIEW – Pergerakan harga Bitcoin, Selasa (13/10/2026), menunjukkan volatilitas yang tinggi serta sentimen pasar yang kompleks. Sepanjang hari tersebut, Bitcoin mengalami fluktuasi yang cukup signifikan, dimulai dengan penurunan tajam yang membuatnya sempat jatuh ke level terendah di sekitar USD81.000, sebelum akhirnya berhasil bangkit kembali dan menembus angka USD83.000.
Data dari berbagai bursa kripto menunjukkan bahwa pada pagi hingga siang hari, harga Bitcoin diperdagangkan di kisaran USD82.423, mencerminkan penurunan sekitar 2% dalam periode 24 jam dan sekitar 3% selama sepekan terakhir. Namun, rebound yang terjadi setelahnya menunjukkan adanya daya beli yang masuk untuk menopang harga di level support penting.
Fluktuasi ini tidak lepas dari berbagai faktor makroekonomi dan geopolitik yang sedang menekan pasar aset risiko secara global. Meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya serangan terhadap bandara Saudi oleh kelompok Houthi, telah memicu kekhawatiran akan pasokan energi dan mendorong harga minyak internasional seperti Brent naik ke level sekitar USD103 per barel.
Baca Juga: Bitcoin Berhasil Pulih, Tekanan Pasar Masih Membayangi
Kenaikan harga minyak ini kemudian memicu kekhawatiran inflasi yang lebih tinggi, yang pada gilirannya meningkatkan spekulasi bahwa Federal Reserve (Fed) AS mungkin akan mempertahankan suku bunga tinggi atau bahkan menaikkannya kembali.
Ekspektasi terhadap kebijakan moneter yang ketat ini membuat imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS, terutama tenor 30 tahun, melonjak ke level tertinggi dalam 24 tahun terakhir di kisaran 5,60% hingga 5,70%. Kondisi ini membuat aset berisiko seperti Bitcoin menjadi kurang menarik dibandingkan instrumen pendapatan tetap, sehingga menekan harganya.
Dari sisi sentimen pasar, data Indeks Fear & Greed untuk cryptocurrency menunjukkan pendinginan yang signifikan, turun dari angka 67 menjadi 56, yang menandakan bahwa investor kini berada dalam zona netral dan cenderung berhati-hati. Hal ini juga tercermin dari aliran dana keluar (net outflow) yang besar dari produk ETF Bitcoin spot, yang mencapai USD484,9 juta dalam satu hari, merupakan yang terbesar sejak Juni 2026.
Di tengah tekanan ini, para pemegang Bitcoin jangka panjang justru menunjukkan tanda-tanda profitabilitas yang kembali positif. Indikator Spent Output Profit Ratio (SOPR) untuk pemegang jangka panjang berada di atas rata-rata tahunan, menunjukkan bahwa mereka yang bertahan lama masih menikmati keuntungan rata-rata sekitar 10%. Analis melihat pola ini mirip dengan fase akhir pasar bearish sebelumnya, di mana profitabilitas pemegang jangka panjang mulai pulih dan sering kali menjadi sinyal awal potensi pemulihan pasar.
Ke depan, perhatian pasar akan sangat tertuju pada data ekonomi AS yang akan dirilis minggu ini, yaitu Indeks Harga Konsumen (CPI) dan Indeks Harga Produsen (PPI) untuk bulan September. Jika data inflasi tersebut ternyata lebih rendah dari perkiraan, maka akan menjadi katalis positif yang dapat meredakan kekhawatiran akan kenaikan suku bunga lebih lanjut, memberikan ruang bagi Bitcoin dan aset risiko lainnya untuk mencoba bangkit.
Sebaliknya, jika inflasi lebih tinggi dari ekspektasi, maka tekanan jual bisa kembali menguat. Selain itu, level support teknikal di sekitar USD82.500 menjadi kunci; jika Bitcoin mampu bertahan dan ditutup di atas level tersebut, maka ruang untuk akumulasi kembali dan reli menuju level yang lebih tinggi masih terbuka. Secara keseluruhan, pasar Bitcoin pada tanggal 13 Oktober 2026 berada dalam fase konsolidasi yang menegangkan, terjepit di antara kekhawatiran makro jangka pendek dan harapan akan potensi pembalikan tren jangka panjang.

