ASIAWORLDVIEW – Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS kembali terpuruk dan mendekati ambang psikologis Rp18.000, ditutup melemah 75 poin atau 0,42 persen ke level Rp17.978 per dolar AS. Pelemahan ini tercermin pula pada kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia, yang turun ke Rp17.965 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.917.
Kondisi tersebut menandakan tekanan yang konsisten sepanjang sesi perdagangan. Sejak awal tahun, rupiah telah terdepresiasi sekitar 6,7 persen, dan secara mingguan melemah 0,84 persen dari posisi Rp17.758 pada 18 September .
Sentimen eksternal menjadi pendorong utama pelemahan rupiah hari ini. Ketegangan geopolitik di Selat Hormuz kembali memanas setelah Iran menyatakan tidak akan melunakkan syaratnya untuk membuka kembali jalur pelayaran strategis tersebut. Eskalasi ini memicu kekhawatiran pasar terhadap pasokan energi global, menjaga harga minyak mentah Brent tetap di atas USD90 per barel. Kondisi ini berpotensi memperlebar defisit transaksi berjalan dan menambah beban fiskal Indonesia sebagai net importir minyak.
Dari sisi data ekonomi AS, penjualan barang tahan lama Agustus 2026 tercatat stabil (0 persen), lebih baik dari perkiraan pasar yang memproyeksikan kontraksi 0,4 persen. Data ini memperkuat ekspektasi bahwa The Fed masih berpeluang menaikkan suku bunga seperempat poin pada Oktober, dengan probabilitas yang diprakirakan mencapai sekitar 70 persen.
Baca Juga: Wamenkeu Juda Agung: Pemerintah Perkuat Ketahanan Fiskal dan Keuangan
Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun bertahan di level tinggi sekitar 5,17 persen, sementara indeks dolar AS (DXY) menguat ke posisi 101,15, memperkuat daya tarik aset berbasis dolar dan memicu perpindahan dana dari pasar emerging market .
Dari dalam negeri, tekanan datang dari tingginya permintaan dolar AS dari importir serta arus keluar dana asing dari pasar keuangan Indonesia. Investasi portofolio asing mencatat net inflow sekitar USD400 juta hingga 21 September, namun bantalan ini dinilai belum cukup untuk membalikkan arah jika premi risiko global terus meningkat.
Bank Indonesia masih memiliki cadangan devisa USD146,5 miliar atau setara 5,4 bulan impor sebagai bantalan stabilisasi, dengan ruang intervensi valas, insentif lindung nilai, dan pengelolaan imbal hasil instrumen moneter. Namun, ruang pelonggaran moneter semakin terbatas seiring inflasi Agustus yang naik menjadi 3,19 persen secara tahunan dari 2,88 persen sebelumnya, ditopang kenaikan harga pangan bergejolak.
Analis memperkirakan rupiah masih akan bergerak dalam rentang Rp17.900–Rp18.050 per dolar AS untuk perdagangan hari ini, dengan risiko menguji bahkan sesaat menembus Rp18.000 tetap terbuka dalam beberapa pekan ke depan . Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede menyatakan level Rp18.000 belum tentu menjadi keseimbangan baru yang bertahan, bergantung pada respons BI dan perkembangan global.
Pasar kini mencermati data inflasi PCE AS (Rabu), ISM Manufacturing PMI (Kamis), dan Nonfarm Payrolls (Jumat) yang akan membentuk ekspektasi kebijakan The Fed menjelang pertemuan bulan depan . Secara keseluruhan, pergerakan rupiah pada 28 September 2026 mencerminkan tekanan eksternal yang persisten dari kombinasi yield Treasury tinggi, dolar kuat, dan risiko energi Timur Tengah, dengan fokus utama pada apakah level Rp18.000 akan tertembus secara berkelanjutan atau hanya menjadi titik uji sementara.

