ASIAWORLDVIEW – Bank Indonesia (BI) bergerak cepat merespons tekanan yang menekan nilai tukar rupiah. Kondisi ini dilakukan agar Rupiah terus berada di pasar dan menjaga stabilitas moneter di tengah badai sentimen global yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda.
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin Gunawan Hutapea, menyatakan bahwa pelemahan rupiah yang terjadi dipengaruhi oleh sentimen risk-off global yang mendorong penguatan dolar AS dan menekan pasar keuangan domestik.
“Arus keluar dana dari aset portofolio domestik masih akan berlanjut seiring investor global yang beralih ke aset-aset safe haven. Pernyataan ini disampaikan di tengah tekanan jual yang membuat rupiah menembus level psikologis Rp18.000 per dolar AS, level yang terakhir kali terlihat pada periode krisis global sebelumnya,” ia menambahkan.
Meskipun demikian, Erwin menegaskan bahwa secara umum pergerakan rupiah masih sejalan dengan mata uang kawasan, dengan pelemahan terbatas sebesar 0,28 persen secara quarter-to-date (QTD). Dalam kerangka analisis ekonomi Asia, pernyataan ini penting karena menunjukkan bahwa depresiasi rupiah bukan fenomena yang berdiri sendiri, melainkan bagian dari gelombang risk-off yang melanda seluruh pasar emerging market.
Baca Juga: Rupiah Tembus Rp18.000, Tertekan Badai Sentimen Global dan Domestik
Mata uang regional seperti won Korea Selatan, baht Thailand, dan peso Filipina juga mengalami tekanan serupa, meskipun dengan intensitas yang bervariasi. Dengan demikian, BI ingin menegaskan bahwa fundamental domestik tidak menjadi penyebab utama pelemahan, melainkan faktor eksternal yang bersifat sementara dan sistematik.
BI berkomitmen untuk terus hadir di pasar melalui intervensi yang konsisten dan terukur. Strategi yang dijalankan meliputi transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder. Kombinasi instrumen ini mencerminkan pendekatan tiga lapis: menjaga likuiditas valas di pasar offshore, menstabilkan harga di pasar spot domestik, dan menyerap tekanan jual di pasar SBN agar imbal hasil tidak melonjak liar.
“Cadangan devisa Indonesia tetap terjaga di level 146,3 miliar dolar AS pada akhir September 2026. Angka ini menjadi bantalan penting untuk membiayai intervensi dan mempertahankan kepercayaan pasar terhadap kemampuan Indonesia memenuhi kewajiban eksternalnya,” ia menambahkan.
Rasio cadangan devisa terhadap utang jangka pendek dan impor masih berada di zona aman, sehingga ruang bagi BI untuk melakukan stabilisasi masih terbuka. Selain itu, BI terus menjaga kecukupan likuiditas serta berkoordinasi intensif dengan korporasi dan pelaku pasar, langkah yang penting untuk mencegah kepanikan yang tidak perlu dan memastikan bahwa kebutuhan valas untuk kegiatan usaha tetap terpenuhi.
