ASIAWORLDVIEW – Presiden Prabowo Subianto dalam pidatonya di KTT BRICS 2026 menekankan bahwa kekuatan kolektif negara-negara BRICS tidak boleh berhenti sebagai komitmen di atas kertas, melainkan harus diwujudkan menjadi manfaat nyata bagi masyarakat. Menurutnya, kekuatan ini harus menjadi peluang konkret yang dapat memperkuat suara Global Selatan dalam menentukan masa depan mereka sendiri.
“Kerja sama antarnegara BRICS dapat menjadi instrumen penting untuk membangun tatanan internasional yang lebih adil dan setara, sekaligus memperkuat posisi negara-negara berkembang dalam tata kelola global,” ia mengatakan.
Prabowo menekankan bahwa kekuatan kolektif harus digunakan untuk menjembatani kesenjangan antara komitmen dan hasil nyata. Alhasil rakyat benar-benar merasakan dampak positif dari kolaborasi tersebut.
Baca Juga: Prabowo Wajibkan Rekening Bank bagi Masyarakat, Dorong Inklusi dan Literasi Keuangan Nasional
“Inilah jenis kekuatan kolektif yang kita butuhkan, kekuatan yang tidak hanya ada di atas kertas, tetapi diwujudkan menjadi peluang bagi rakyat kita; kekuatan yang memungkinkan Global Selatan memiliki suara yang lebih besar dalam membentuk masa depan mereka sendiri,” ia menambahkan.
Pernyataan ini sejalan dengan harapan agar Deklarasi New Delhi yang dihasilkan dari KTT ke-18 dapat menjadi kerangka kerja kolektif yang mengubah komitmen kebijakan menjadi tindakan konkret, memperkuat representasi, responsivitas, dan aturan keterlibatan dalam lembaga-lembaga global.
Ia menambahkan bahwa kekuatan kolektif ini juga harus digunakan untuk membangun tatanan internasional yang lebih adil dan setara. Kerja sama di antara negara-negara BRICS, katanya, dapat memperkuat suara dan kepentingan Global Selatan dalam tata kelola global.
“Kekuatan yang sama juga harus digunakan untuk membangun tatanan internasional yang lebih adil dan setara. Bersama-sama, kita dapat memanfaatkan kekuatan kita,” pungkasnya.
