ASIAWORLDVIEW – PENDAR PARADOKS menjadi salah satu sorotan di Jakarta Fashion Week (JFW) 2027 dengan menghadirkan kolaborasi tiga label mode lokal, yaitu RIANTY BATIK, ELIZABETH, dan DEBZ. Melalui koleksi yang memadukan warisan budaya dengan sentuhan desain modern, ketiganya menampilkan busana kontemporer yang mencerminkan dinamika gaya hidup masa kini. RIANTY BATIK menghadirkan kekayaan motif tradisional dalam siluet yang lebih segar dan relevan bagi generasi muda, sementara ELIZABETH melengkapi penampilan dengan aksesori dan tas yang memadukan fungsi serta estetika modern. Di sisi lain, DEBZ mengeksplorasi desain yang berani dengan permainan struktur, warna, dan detail yang memberi kesan ekspresif.
Di tengah pasar mode yang sering kali terjebak pada repetisi tren, PENDAR PARADOKS menawarkan sesuatu yang segar: sebuah perayaan atas paradox itu sendiri—antara tradisi dan inovasi, antara struktur dan kelembutan, antara masa lalu kolonial dan identitas Indonesia modern. Ketiga jenama yang terlibat membuktikan bahwa mode Indonesia tidak perlu memilih antara menjadi “lokal” atau “kontemporer”; keduanya bisa berjalan beriringan.
Kolaborasi ini menunjukkan bagaimana unsur tradisional dan modern dapat berjalan beriringan, menciptakan karya fashion yang tidak hanya menarik secara visual tetapi juga memiliki nilai budaya yang kuat. Kehadiran koleksi Pendar Paradoks di JFW 2027 sekaligus menegaskan kreativitas desainer lokal dalam menghadirkan interpretasi baru terhadap identitas mode Indonesia di panggung yang semakin global.
Baca Juga: LEPAS di Jakarta Fashion Week 2027: Saat Desain Otomotif Bertemu Fashion Urban
Jenama RIANTY BATIK membuka babak pertama dengan koleksi bertajuk “REKA – The Poetry of Form”, sebuah interpretasi baru terhadap warisan batik Indonesia yang tidak berhenti pada motif semata. Koleksi ini menghadirkan 16 tata gaya busana yang mengeksplorasi pertemuan antara batik, seni lukis, dan keramik—tiga disiplin yang jarang disatukan dalam satu panggung mode. Yang paling menarik, untuk pertama kalinya RIANTY BATIK menggunakan kain linen sebagai medium ekspresi, dipadukan dengan teknik batik cap dan batik lukis. Motif klasik Kawung dan Truntum diolah ulang melalui sapuan garis serta komposisi abstrak yang dinamis, sehingga hasilnya terasa segar tanpa kehilangan akar budayanya. Eksplorasi dimensi tiga rupa dari karya keramik pun diterjemahkan menjadi pelengkap busana seperti korset dan obi, menciptakan siluet yang sculptural namun tetap wearable.
Sementara itu, jenama mode asal Bandung, ELIZABETH, membawa energi berbeda melalui koleksi “Bloom Beneath the Surface”. Terdiri dari 16 tata gaya, koleksi ini mengeksplorasi pertemuan antara karakter kuat, struktur modern, dan kelembutan feminin yang organik—sebuah kontras yang sengaja dirayakan. ELIZABETH berani mengangkat textured PU leather, yang selama ini menjadi identitas utama produk tas mereka, untuk diolah menjadi busana dengan siluet berskulptur modern. Teknik laser-cut floral menghadirkan detail organik yang berpadu selaras dengan tekstur rajut, katun, serta kilau lembut satin. Palet warnanya pun mencerminkan keseimbangan yang sama: stone, clay, dan olive sebagai warna alami, dengan aksen deep burgundy, blush pink, dan dusty blue. Koleksi ini merefleksikan komitmen ELIZABETH dalam mengusung semangat “Empower Women with Style”—sebuah pesan yang resonates bagi perempuan yang ingin tampil kuat namun tetap lembut.
Menutup rangkaian, desainer batik kontemporer Debby Fauziyanto melalui label DEBZ mempersembahkan koleksi “Nuansa Waktu”. Koleksi ini mengeksplorasi pertemuan antara keanggunan era Victorian dan estetika kolonial yang diinterpretasikan kembali melalui perspektif budaya Indonesia—sebuah dialog yang jarang diangkat, namun terasa sangat relevan di tengah gelombang nostalgia mode global. DEBZ menampilkan sosok perempuan modern yang anggun dan berkarakter melalui pendekatan soft tailoring dengan siluet terstruktur yang tetap ringan dan feminin, ditandai oleh detail lengan bervolume, garis potong tegas, serta aksen dekoratif.
Perpaduan materialnya kaya akan dimensi: lace, tartan, jacquard, semi-wool, dan batik—khususnya motif Batik Buketan yang kaya akan detail floral. Dalam penampilannya di panggung JFW 2027, DEBZ berkolaborasi dengan VIVI NICI sebagai mitra alas kaki resmi melalui koleksi “Astra Vie” serta Noor 8 Fine Jewelry sebagai mitra perhiasan resmi. Bagi pencinta busana bernuansa klasik dengan sentuhan lokal, “Nuansa Waktu” adalah pengingat bahwa keanggunan tidak pernah lekang oleh waktu, terutama ketika diracik dengan sensitivitas budaya yang tepat.
Rangkaian PENDAR PARADOKS terasa utuh adalah kehadiran VIVI NICI sebagai mitra alas kaki resmi di ketiga peragaan. Melalui lini “Astra Vie”, VIVI NICI berhasil menerjemahkan karakter busana yang sangat berbeda—dari batik eksperimental RIANTY, busana sculptural ELIZABETH, hingga soft tailoring DEBZ—ke dalam bahasa alas kaki yang konsisten dan kontemporer. Ini bukan sekadar kolaborasi komersial, melainkan bukti bahwa aksesori yang tepat dapat menjadi jembatan yang menyatukan estetika yang beragam. Bagi konsumen yang memperhatikan detail dari ujung kepala hingga ujung kaki, kolaborasi ini menawarkan referensi gaya yang lengkap dan koheren.

One thought on “PENDAR PARADOKS Tampilkan Perpaduan Tradisi dan Mode Kontemporer di JFW 2027”