Yosafat Dwi Kurniawan Menggebrak Langham Fashion Soiree dengan Revolusi Siluet

Kreasi Yosafat Dwi Kurniawan di Langham Fashion Soiree.

ASIAWORLDVIEW – Di tengah gemerlap panggung Langham Fashion Soiree yang menjadi ajang kolaborasi antara Hotel The Langham Jakarta dan Indonesia Fashion Designer Council (IFDC), seorang desainer yang telah berkarya selama 15 tahun memilih untuk tidak lagi bermain aman. Yosafat Dwi Kurniawan, yang akrab disapa Yos, menghadirkan koleksi bertajuk “Après la Révolution” —sebuah istilah yang merujuk pada periode pasca Revolusi Prancis, ketika eksekusi Raja Louis XVI dan Ratu Marie Antoinette mengakhiri era monarki absolut dan memaksa para bangsawan untuk meninggalkan kemewahan busana istana yang sarat dengan payet, sutra, dan korset.

“Revolusi sosial beresonansi ke gaya hidup,” ujarnya.

Dalam transisi menuju era Directoire hingga kebangkitan Napoleon Bonaparte, kelas atas Prancis memilih untuk mengenakan busana yang jauh lebih sederhana, ringan, dan terinspirasi dari gaya Yunani kuno—sebagai bentuk penghindaran terhadap stigma borjuis dan upaya menyelaraskan diri dengan nilai-nilai demokrasi yang baru lahir.

Fenomena ini, menurut Yosafat, bukanlah peristiwa yang terisolasi dalam sejarah. Ia menemukan pola serupa terjadi di Amerika Serikat pasca Perang Vietnam, di mana busana tahun 1970-an bertransformasi menjadi lebih praktikal, longgar, dan membebaskan—sebagai respons terhadap trauma perang dan keinginan kolektif untuk hidup damai.

Baca Juga: Liliana Lim Memukau dengan Puisi Busana Florilegium di The Langham Fashion Soirée

Dan di sinilah Yosafat menarik benang merah: perubahan besar dalam tatanan masyarakat selalu meninggalkan jejak pada cara orang berpakaian. Baginya, ini bukan sekadar eksplorasi estetika, melainkan sebuah pernyataan filosofis.

Koleksi yang terdiri dari 30 tampilan ini menjadi medium bagi Yosafat untuk menyampaikan narasi visual tentang transisi: dari imperialisme dan kemewahan Baroque-Rococo yang sarat ornamen, menuju nuansa perak yang melambangkan medan perang dan baju zirah, dan akhirnya berlabuh pada palet warna yang dominan dari tahun 70-an: putih tulang, krem, biru pirus, hijau sage, biru denim, merah, hitam, perak, dan emas.

Kreasi Yosafat Dwi Kurniawan di Langham Fashion Soiree.
Kreasi Yosafat Dwi Kurniawan di Langham Fashion Soiree.

Ini adalah sebuah simfoni warna yang tidak hanya menceritakan perjalanan sejarah, tetapi juga perjalanan emosional seorang perancang yang sedang berada di titik balik.

“Biasanya saya menggunakan warna mencolok dan tegas. Kali ini saya mencoba sesuatu yang baru,” jelasnya, seraya menambahkan bahwa ia juga bereksperimen dengan teknik drapery yang jarang ia gunakan sebelumnya.

Hasilnya adalah siluet-siluet yang ringan, melayang, dan longgar—sebuah pergeseran radikal dari ciri khasnya yang selama ini dikenal dengan potongan pinggang yang tegas dan terstruktur.

Namun, revolusi bagi Yosafat bukan hanya soal mengubah potongan kain. Ini adalah perubahan cara berpikir, cara merespons dunia di sekitarnya. Ia mengaku akhir-akhir ini lebih awas, merasa tidak aman, dan sering memikirkan masa depan.

“Perubahan sedang terjadi, tidak hanya untuk diri saya, tetapi juga dunia,” katanya.


Kreasi Yosafat Dwi Kurniawan di Langham Fashion Soiree.

Kreasi Yosafat Dwi Kurniawan di Langham Fashion Soiree.

Kekecewaan dan frustasi terhadap pergerakan kemanusiaan yang ia saksikan menjadi bahan bakar kreatif yang mendorongnya untuk keluar dari zona nyaman. Hal ini juga yang membuat ia memilih pendekatan berbeda dalam mencari inspirasi: tidak lagi dari film atau karya desainer Eropa, melainkan dari sisi romantis dan simpati terhadap peristiwa itu sendiri.

“Tak hanya menarik, tetapi juga romantis dan melankolis,” ungkapnya.

Dalam koleksi ini, Yosafat juga menunjukkan bahwa perubahan tidak harus berarti meninggalkan seluruh masa lalu. Sentuhan siluet tahun 40-an, 50-an, dan 60-an tetap hadir, tetapi diolah dari sudut pandang baru. Payet yang selama ini menjadi sematan khasnya juga sengaja dikurangi. Sebagai gantinya, ia menggunakan teknologi mesin bordir mutakhir yang disempurnakan dengan potongan laser dari NOMATEX—sebuah teknik yang memungkinkan efek bordir pada kain berukuran lebar dalam waktu singkat. Material yang dipilih pun sejalan dengan narasi pasca-perang: jersei, voile, tweed, serta serat viscose rayon dan lyocell dari Asia Pacific Rayon (APR) yang tergolong material berkelanjutan.

Aryo Oetomo, Direktur APR, menyambut kolaborasi ini sebagai bukti bahwa serat berbasis alam mampu mendukung ekspresi kreatif di segmen mode premium. Yosafat sendiri mengakui bahwa material ramah lingkungan ini dipilih karena kelembutannya, kemudahan diolah dengan teknik drapery, dan strukturnya yang cocok untuk busana siap pakai premium.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *