ASIAWORLDVIEW – Pariwisata premium di Indonesia tengah memasuki fase ekspansi yang signifikan. Data terbaru menunjukkan bahwa segmen ini tidak hanya pulih dari dampak pandemi, tetapi juga tumbuh lebih cepat dibandingkan kelas akomodasi lainnya, didorong oleh pergeseran struktural dalam preferensi wisatawan, masuknya investasi besar, serta dukungan kebijakan pemerintah yang agresif.
Indikator paling jelas dari perkembangan pariwisata premium Indonesia terlihat dari kinerja okupansi hotel mewah. Berdasarkan data STR, divisi analitik hotel milik CoStar Group, okupansi hotel mewah di Indonesia dalam periode 12 bulan hingga Maret 2026 telah kembali menyamai capaian sebelum pandemi, yakni mencapai 64 persen. Angka tersebut melampaui kinerja segmen hotel lainnya yang masih berada di bawah level pra-pandemi, dengan selisih sekitar 5,5 poin persentase.
Yang lebih menarik, pemulihan ini tidak hanya tercermin dari tingkat hunian, tetapi juga dari tarif kamar. Tarif hotel di Indonesia tercatat naik lebih dari 40 persen dibandingkan tahun 2019. Kenaikan tarif yang signifikan ini menunjukkan bahwa permintaan terhadap akomodasi premium tidak bersifat elastis terhadap harga. Wisatawan kelas atas bersedia membayar lebih untuk mendapatkan pengalaman yang eksklusif dan berkualitas.
Regional Vice President Asia Pacific STR, Jesper Palmsqvuit, menilai bahwa okupansi hotel mewah Indonesia telah kembali ke level pra-pandemi dengan tingkat resiliensi yang lebih tinggi. “Jadi ini merupakan sesuatu yang harus ditanggapi dengan sangat positif dan menjadikan proyeksinya pun untuk masa depan menjadi tinggi,” ujarnya.
Baca Juga: Destinasi Maritim Kelas Dunia, Indonesia Dorong Pariwisata Kapal Pesiar
Pertumbuhan pariwisata premium Indonesia tidak dapat dilepaskan dari perubahan pola permintaan pasar. Direktur Pacific Asia Horwath HTL, Matt Gebbie, menyatakan bahwa pertumbuhan sektor wisata mewah di Indonesia tidak hanya soal peningkatan jumlah wisatawan, tetapi juga perubahan pola permintaan pasar.
Wisatawan mewah yang datang ke Indonesia, menurut Wakil Presiden Regional Operasional Asia Langham Hospitality Group, Sherona Shng, tidak mencari replika dari hotel global. “Mereka mencari makna, konteks, dan rasa tempat,” kata Sherona. Hal ini mendorong para operator hotel dan resor untuk mengembangkan produk yang lebih autentik dan berakar pada budaya lokal.
Indonesia Tourism Xchange (ITX) 2026 mencatat bahwa industri pariwisata Indonesia kini didominasi oleh fenomena “Personalized, Customized, Localized, and Smaller in Size” (PCLS). Wisatawan masa kini cenderung memilih pengalaman perjalanan yang lebih personal dan bersifat mikro, seperti desa wisata atau tur bertema minat khusus. Pergeseran ini menciptakan peluang bagi penyedia layanan premium untuk menawarkan paket yang lebih fleksibel dan terkurasi secara unik.

Dari sisi permintaan domestik, pertumbuhan kelas menengah Indonesia menjadi motor utama. Indonesia Luxury Travel Market mencatat bahwa pasar perjalanan mewah Indonesia tumbuh didorong oleh meningkatnya kelas menengah yang makmur dan bertambahnya jumlah wisatawan internasional kelas atas yang mencari pengalaman unik dan eksotis. Meningkatnya pendapatan yang dapat dibelanjakan dan populasi kelas menengah di Indonesia menjadi bahan bakar permintaan akan pengalaman perjalanan mewah di kalangan wisatawan kaya.
Menariknya, ketidakpastian ekonomi global dan ketegangan geopolitik justru menjadi katalis bagi pertumbuhan pariwisata premium domestik. Deputi Bidang Pemasaran Kementerian Pariwisata, Ni Made Ayu Marthini, mengemukakan bahwa dinamika geopolitik dan ketidakpastian ekonomi global telah mempengaruhi keputusan para wisatawan, termasuk wisatawan Indonesia, dalam merencanakan perjalanan ke luar negeri. Kondisi tersebut membuka peluang bagi pelaku usaha pariwisata nasional untuk menawarkan layanan wisata premium di berbagai destinasi wisata Indonesia kepada wisatawan domestik.
“Kita ingin memastikan perputaran dana masyarakat Indonesia tetap berada di dalam negeri melalui produk-produk wisata premium berkelas dunia,” kata Made. Pemerintah mencatat hingga 1,20 miliar perjalanan wisatawan Nusantara sepanjang tahun 2025, tumbuh 17,53 persen dari tahun sebelumnya. Peningkatan itu berlanjut pada paruh pertama tahun 2026, ketika pemerintah mencatat 630,41 juta perjalanan wisatawan Nusantara atau meningkat 2,71 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pemerintah tidak tinggal diam menghadapi peluang ini. Kementerian Pariwisata secara aktif memfasilitasi peningkatan pasar wisata premium dalam negeri, antara lain dengan mengadakan Luxury Business Networking untuk mempertemukan penyedia layanan pariwisata premium dengan para pengambil keputusan perjalanan kelas atas dan calon mitra. Dalam forum tersebut, sebanyak 11 pelaku usaha layanan pariwisata premium dipertemukan dengan setidaknya 25 pembeli potensial, menawarkan paket perjalanan wisata premium bernilai di atas Rp15 juta per orang.
Dari sisi pengembangan destinasi, pemerintah melalui Rencana Kerja Pemerintah (RKP) 2026 menetapkan target kunjungan wisatawan mancanegara pada kisaran 16,0 hingga 17,6 juta, didukung oleh stabilitas ekonomi nasional dan peningkatan daya tarik destinasi di luar Bali. Kontribusi sektor pariwisata terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional diproyeksikan mencapai angka 4,6 persen hingga 4,7 persen.
Pemerintah juga mendorong pengembangan produk pariwisata premium dan tematik yang memiliki daya tarik belanja tinggi, seperti wisata MICE (Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition). Selain itu, pengembangan marina di Bali menjadi salah satu strategi untuk menarik wisatawan kelas atas, terutama mereka yang bersedia menghabiskan uang dengan pengeluaran tinggi.
Pengakuan internasional terhadap kualitas industri hospitality Indonesia menjadi faktor penguat tersendiri. Pada 18 September 2026, Global Michelin Guide mengumumkan 47 hotel dan resor di Indonesia yang masuk dalam daftar Michelin Key 2026. Tiga resor Indonesia meraih penghargaan tertinggi “3 Keys” atau “An Extraordinary Stay”: NIHI Sumba di Nusa Tenggara Timur, Amanjiwo di Jawa Tengah, dan Mandapa Ritz-Carlton Reserve di Bali.
Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana menyatakan bahwa pengakuan tersebut diharapkan semakin memperkuat sektor pariwisata Indonesia. “Mari kita optimalkan momentum ini untuk memperkuat posisi Indonesia sebagai destinasi pariwisata kelas dunia yang maju, kompetitif, dan berkelanjutan,” ujarnya. Pengakuan Michelin Key ini tidak hanya meningkatkan kredibilitas hotel-hotel Indonesia di mata wisatawan global, tetapi juga mendorong standar layanan yang lebih tinggi di seluruh industri.
