ASIAWORLDVIEW – Kesehatan gigi dan mulut sering kali dipandang sebelah mata dalam hiruk-pikuk pengasuhan anak. Padahal fondasi kebiasaan ini harus mulai ditanamkan sejak gigi susu pertama tumbuh.
Kesehatan gigi dan mulut masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat di Indonesia, termasuk pada anak usia sekolah. Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) Kementerian Kesehatan RI menunjukkan bahwa 57 persen penduduk berusia di atas tiga tahun mengalami masalah gigi dan mulut.
“Kesehatan gigi dan mulut bukan hanya berkaitan dengan kondisi fisik, tetapi juga memengaruhi kepercayaan diri dan kualitas hidup anak,” sebut Dekan Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, Prof. drg. Lisa Rinanda Amir, Ph.D., PBO, Senin (27/7/2026).
Edukasi mengenai kesehatan gigi dan mulut bukanlah sekadar ajaran temporer yang diberikan saat anak mulai sekolah, melainkan sebuah proses berkelanjutan yang membutuhkan konsistensi dari orang tua, guru, dan lingkungan sekitar.
“Masa kanak-kanak adalah periode emas dalam pembentukan kebiasaan; ketika anak terbiasa menyikat gigi dengan benar, rutin berkumur, dan memahami pentingnya mengurangi konsumsi gula. Kebiasaan tersebut akan terbawa hingga dewasa dan melindungi mereka dari berbagai masalah kesehatan di kemudian hari,” ia menambahkan.
Baca Juga: Kenali Tanda-Tanda Holiday Blue pada Anak
Sayangnya, banyak orang tua yang menganggap gigi susu bersifat sementara, sehingga mengabaikan perawatan yang memadai. Padahal, infeksi pada gigi susu yang dibiarkan dapat merusak bibit gigi permanen di bawahnya. Kondisi tersebut menyebabkan gangguan pertumbuhan rahang, hingga memicu masalah gizi karena anak kesulitan mengunyah makanan dengan nyaman.
Kesehatan gigi dan mulut ternyata memiliki korelasi yang sangat erat dengan kepercayaan diri dan kualitas hidup anak. Bayangkan seorang anak yang harus menahan diri untuk tidak tersenyum lebar karena malu dengan gigi yang berlubang atau berwarna gelap; atau anak yang mulai menarik diri dari pergaulan karena teman-temannya menggoda bau mulut atau bentuk giginya yang tidak rata.
“Dalam usia pertumbuhan, momen interaksi sosial sangat krusial untuk membangun harga diri. Gangguan pada gigi, seperti karies atau maloklusi (gigi tidak beraturan), dapat mengganggu fungsi bicara (artikulasi), membuat anak enggan berbicara di depan kelas, menurunkan prestasi akademik akibat rasa sakit yang mengganggu konsentrasi, hingga menyebabkan gangguan tidur karena nyeri gigi di malam hari,” ia menambahkan.
Dampaknya tidak berhenti pada masa kanak-kanak; trauma atau rasa malu yang terpendam akibat kondisi mulut yang buruk sering kali terbawa hingga dewasa, memengaruhi kehidupan profesional dan personal mereka. Karena itu, investasi dalam edukasi kesehatan gigi sejak usia dini adalah salah satu bentuk perlindungan paling mendasar yang bisa diberikan orang tua.
Bukan hanya untuk memastikan senyum mereka indah, tetapi untuk memastikan mereka tumbuh menjadi individu yang percaya diri, sehat secara fisik. Selain itu, mampu menjalani kehidupan sosial dengan penuh keberanian.
PT Kalbe Farma Tbk (Kalbe) melalui anak usahanya, PT Hexpharm Jaya Laboratories (Hexpharm Jaya), dan Aloclair Plus, turut memperingati Hari Anak Nasional (HAN) 2026 salah satunya berupa program “Speak Up & Smile Updengan” edukasi kesehatan gigi dan mulut kepada siswa SDN Utan Kayu Utara 01, Jakarta Timur. Program “Speak Up & Smile Up bertema Your Voice Matters, Your Smile Inspires” ini merupakan kolaborasi Aloclair Plus dengan KPPIKG (Kursus Penyegar dan Penambah Ilmu Kedokteran Gigi) Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia (FKG UI).
