ASIAWORLDVIEW – Candi Borobudur tidak hanya dikenal sebagai mahakarya arsitektur Buddha terbesar di dunia, tetapi juga menyimpan berbagai misteri dan sejarah yang hingga kini masih terus diteliti para arkeolog dan sejarawan. Dibangun pada abad ke-8 hingga ke-9 pada masa Wangsa Syailendra, candi ini memiliki ribuan relief yang menceritakan perjalanan hidup manusia, ajaran Buddha, hingga gambaran kehidupan masyarakat Jawa kuno.
Namun, sejumlah pertanyaan masih belum terjawab secara pasti, seperti metode pembangunan yang memungkinkan jutaan balok batu tersusun rapi tanpa teknologi modern, alasan Borobudur sempat ditinggalkan selama berabad-abad, serta makna simbolis dari beberapa relief yang masih menjadi perdebatan para ahli. Selain itu, keberadaan struktur kaki candi yang tersembunyi dan kemudian ditutup juga menambah teka-teki tentang tujuan sebenarnya dari desain Borobudur. Berbagai misteri tersebut menjadikan Borobudur bukan hanya destinasi wisata dan situs warisan dunia UNESCO, tetapi juga sumber pengetahuan berharga yang terus mengungkap kisah peradaban Nusantara di masa lampau.
Kini Centre des monuments nationaux (CMN) di bawah naungan Kementerian Kebudayaan Prancis, CMN mengelola lebih dari 100 monumen bersejarah di seluruh Prancis, termasuk Arc de Triomphe, Panthéon, dan Sainte-Chapelle. Misinya tidak hanya terbatas pada pelestarian, tetapi juga mencakup transfer pengetahuan sejarah dan budaya, keterlibatan masyarakat, serta pengembangan pengalaman pengunjung. Melalui jaringan nasionalnya, lembaga ini mengumpulkan keahlian dalam pengelolaan monumen, interpretasi warisan budaya, penyusunan program budaya, serta upaya menjadikan warisan budaya dapat diakses oleh berbagai kalangan.
Marie Lavandier, Presiden Centre des monuments nationaux (CMN)—lembaga publik Prancis yang bertanggung jawab atas pelestarian, pengelolaan, dan promosi monumen nasional—baru saja melakukan kunjungan ke Indonesia pada 18 hingga 24 Oktober 2026. Tujuannya? Memajukan kerja sama Prancis-Indonesia di bidang warisan budaya, dengan fokus khusus pada pengembangan Museum Borobudur. Bayangkan, para ahli warisan budaya dari dua negara bertemu untuk mengevaluasi kebutuhan situs dan menetapkan prioritas bagi inisiatif pengembangan museum tahap awal, yang bertujuan menghadirkan pengalaman berkunjung yang lebih menarik, bermakna, dan terintegrasi di salah satu landmark budaya paling penting di Indonesia.
Baca Juga: Purwacarita Borobudur, Hidupkan Relief Sejarah dengan Teknologi Imersif
“Evaluasi ini akan meninjau fasilitas pengunjung yang ada, alat-alat interpretasi dan mediasi warisan budaya, program-program budaya, profil pengunjung, dan dinamika pariwisata, serta infrastruktur dan lingkungan operasional situs. Hasil asesmen ini akan menjadi dasar bagi rekomendasi awal serta arahan strategis terkait pengonsepan museum, termasuk konten, pengalaman pengunjung, dan integrasinya ke dalam lanskap budaya dan pariwisata yang lebih luas,” sebutnya, dikutip dari siaran pers, Selasa (20/10/2026).
Kunjungan ini bukanlah langkah awal yang muncul tiba-tiba. Ini adalah kelanjutan dari Deklarasi Borobudur tentang Strategi Kebudayaan Bersama, yang disahkan pada 29 Mei 2025 oleh Presiden Prabowo dan Presiden Macron. Dalam deklarasi itu, museum dan warisan budaya ditetapkan sebagai prioritas utama dalam kerja sama bilateral. Komitmen ini semakin diperkuat selama Dialog Strategis Kebudayaan Prancis-Indonesia pertama di Paris pada Juli 2025 dan pembentukan gugus tugas khusus yang melibatkan lembaga-lembaga kebudayaan terkemuka Prancis.
“Misi-misi lanjutan dan sesi kerja direncanakan akan dilaksanakan pada tahun 2027 untuk menyempurnakan program, mengembangkan konsep museum—termasuk rute kunjungan pengunjung dan alat interpretasi—serta mendukung tahap perancangan arsitektur,” ia menambahkan.
Sebuah tonggak penting lainnya tercapai pada 22 April 2026, ketika CMN dan InJourney Destination Management menandatangani nota kesepahaman di Paris, disaksikan langsung oleh Menteri Kebudayaan Indonesia Fadli Zon dan Menteri Kebudayaan Prancis Catherine Pégard. Perjanjian tersebut menetapkan kerangka kerja sama dalam pelestarian dan promosi warisan budaya, dengan pengembangan Museum Borobudur sebagai proyek unggulan pertamanya.
Pengalaman inilah yang menjadi landasan bagi kerja sama dengan InJourney Destination Management (IDM), mitra Indonesia dalam proyek Borobudur. Dengan menggabungkan pengalaman CMN dalam pengelolaan warisan budaya dan interpretasi bagi pengunjung dengan pengalaman IDM dalam pengelolaan destinasi warisan budaya dan pengembangan pengalaman pengunjung, kemitraan ini bertujuan untuk mengembangkan pendekatan yang sesuai dengan signifikansi budaya khas Borobudur, kebutuhan pengunjung, serta konteks pariwisata yang lebih luas.

One thought on “Museum Borobudur Akan Dikembangkan dengan Keahlian Warisan Budaya Prancis”