ASIAWORLDVIEW – Menyikat gigi secara rutin merupakan kebiasaan dasar yang penting untuk menjaga kesehatan mulut, tetapi kebiasaan ini tidak selalu membuat gigi tampak lebih putih. Banyak orang mengalami kondisi di mana gigi tetap terlihat kekuningan meskipun sudah dibersihkan secara teratur. Fenomena ini bukan semata-mata disebabkan oleh noda dari makanan dan minuman, melainkan juga berkaitan dengan warna alami gigi serta cara gigi berinteraksi dengan cahaya.
Kementerian Kesehatan melalui portal Ayo Sehat menyebut kopi dan teh sebagai minuman yang dapat meninggalkan noda pada gigi. Namun, noda bukan satu-satunya faktor yang memengaruhi warna gigi. Enamel, lapisan terluar gigi, bersifat agak transparan sehingga warna lapisan di bawahnya ikut terlihat. Lapisan tersebut disebut dentin, yang secara alami cenderung kekuningan. Cara enamel dan dentin menyerap serta menyebarkan cahaya turut menentukan warna gigi yang kita lihat. Itulah sebabnya gigi yang bersih tetap bisa terlihat kekuningan.
“Kebutuhan konsumen terhadap pasta gigi semakin beragam, termasuk untuk merawat noda dan menjaga tampilan gigi. Melalui usmile Optical White, kami memadukan papain dengan teknologi koreksi warna optik untuk menjawab kedua kebutuhan tersebut,” ujar Michelle, Country Manager usmile Indonesia dan Malaysia.
Warna gigi dipengaruhi oleh struktur biologis yang bersifat individual. Enamel yang transparan berfungsi sebagai pelindung dentin, tetapi sifat optiknya memungkinkan cahaya menembus dan dipantulkan kembali dari lapisan dalam. Ketebalan enamel, tingkat mineralisasi, serta komposisi dentin berbeda pada setiap orang, sehingga warna gigi alami pun bervariasi.
Seiring bertambahnya usia, enamel dapat menipis akibat keausan alami, sehingga dentin yang kekuningan semakin terlihat. Selain itu, kebiasaan mengonsumsi makanan dan minuman berwarna gelap, merokok, serta kurangnya perawatan mulut dapat mempercepat akumulasi noda pada permukaan gigi. Dengan demikian, perubahan warna gigi merupakan hasil interaksi antara faktor eksternal (noda) dan faktor internal (struktur dan warna alami gigi).
Baca Juga: Pemeriksaan Gigi Rutin Jadi Kunci Kesehatan Anak
Ada beberapa cara untuk membantu gigi tampak lebih putih, masing-masing dengan cara kerja yang berbeda. Memahami perbedaan ini membantu masyarakat memilih perawatan sesuai kebutuhan. Pertama, pengangkatan noda membantu membersihkan pigmen yang menempel pada permukaan gigi. Pendekatan ini bersifat mekanis atau kimiawi ringan dan tidak mengubah warna intrinsik gigi. Kedua, bleaching menggunakan bahan seperti hidrogen peroksida atau karbamid peroksida untuk menguraikan senyawa penyebab perubahan warna melalui reaksi kimia.
Bleaching bekerja lebih dalam dan dapat mengubah warna gigi secara signifikan, tetapi memerlukan kehati-hatian karena berpotensi menimbulkan sensitivitas. Ketiga, optical whitening atau pemutihan optik menggunakan koreksi warna untuk membantu gigi terlihat lebih putih. Pendekatan ini tidak mengubah warna asli gigi, melainkan memanfaatkan prinsip optik untuk menetralkan tampilan kekuningan.
“Kami ingin menghadirkan inovasi yang manfaatnya mudah dipahami dan dapat menjadi bagian dari rutinitas perawatan gigi sehari-hari,” ia menambahkan.
Penelitian dalam Journal of Dentistry menjelaskan bahwa bahan koreksi warna tertentu yang menempel pada permukaan gigi dapat mengubah sifat optiknya, yaitu cara permukaan tersebut berinteraksi dengan cahaya. Perubahan ini dapat membantu mengurangi tampilan kekuningan sehingga gigi terlihat lebih putih. Prinsip ini serupa dengan cara kerja korektor warna dalam tata rias: warna ungu atau biru digunakan untuk menetralkan tampilan kuning pada permukaan tertentu. Dalam konteks gigi, koreksi warna optik bersifat sementara dan tidak menggantikan perawatan kesehatan mulut yang mendasar.
Sejalan dengan pendekatan tersebut, beberapa produk perawatan gigi kini menggabungkan fitur koreksi warna dengan bahan aktif untuk mengangkat noda. Salah satu contohnya adalah usmile Optical White, yang memadukan Natural Purple Corrector dengan kandungan papain dalam satu pasta gigi. Natural Purple Corrector bekerja melalui prinsip koreksi warna optik. Dengan pendekatan koreksi warna ungu dan biru, teknologi ini membantu mengurangi tampilan kekuningan secara visual sehingga gigi tampak lebih putih.
Manfaat tersebut dilengkapi oleh papain yang membantu membersihkan noda permukaan, termasuk noda dari makanan dan minuman. Papain merupakan enzim proteolitik, yaitu enzim yang membantu memecah protein. Pada permukaan gigi, pigmen noda dapat melekat pada lapisan tipis protein yang terbentuk secara alami. Papain membantu menguraikan komponen protein tersebut sehingga noda lebih mudah dilepaskan saat proses pembersihan.
Peran enzim dalam perawatan noda juga telah diteliti. Studi yang dipublikasikan dalam Journal of Young Pharmacists menunjukkan bahwa formulasi pasta gigi yang mengandung papain dan bromelain dapat membantu mengangkat noda pada permukaan gigi. Temuan ini mendukung potensi penggunaan enzim untuk perawatan noda, meskipun hasil setiap produk bergantung pada keseluruhan formulanya.
Meski demikian, gigi yang tampak lebih putih tetap perlu didukung perawatan kesehatan mulut yang menyeluruh. World Health Organization (WHO) memperkirakan hampir 3,7 miliar orang mengalami penyakit gigi dan mulut. WHO juga menegaskan bahwa sebagian besar kondisi tersebut dapat dicegah dan ditangani sejak dini. Menyikat gigi dua kali sehari dengan pasta gigi berfluorida, membersihkan sela gigi, dan memeriksakan gigi secara berkala tetap menjadi dasar perawatan sehari-hari. Perawatan estetika seperti koreksi warna optik atau pengangkatan noda sebaiknya dipandang sebagai pelengkap, bukan pengganti, dari praktik kesehatan mulut yang mendasar.
