ASIAWORLDVIEW – Di tengah tekanan global terhadap inklusi keuangan dan meningkatnya risiko perilaku finansial spekulatif di kalangan generasi muda. Hal itu dilakukan kolaborasi Warta Ekonomi yang bekerja sama dengan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menggelar program Campus to Community bertema “Kampus sebagai Penggerak Literasi Keuangan bagi Masyarakat Unbanked” di Universitas Pamulang (Unpam), Kota Tangerang Selatan, Banten, Selasa (6/10/2026).
“Kegiatan ini penting untuk mensosialisasikan pengelolaan keuangan yang terorganisir kepada generasi muda. Data bahwa sebanyak 92,74 juta orang atau sekitar 48% penduduk Indonesia dewasa belum memiliki rekening bank. Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan gambaran tentang besarnya sektor informal dan rumah tangga yang rentan terhadap guncangan ekonomi karena tidak memiliki akses ke tabungan formal, kredit, maupun asuransi,” sebut CEO & Chief Editor Warta Ekonomi Group Muhamad Ihsan, dikutip Asia World View, Rabu (7/10/2026).
Kegiatan ini menjadi cermin bagi persoalan struktural Indonesia. Di satu sisi, infrastruktur keuangan formal terus berkembang, tetapi di sisi lain, sebagian besar penduduk dewasa belum tersentuh layanan perbankan. Posisi Indonesia sebagai negara dengan populasi unbanked besar keempat di dunia berdasarkan data World Bank 2021 menjadi sinyal bahwa agenda literasi keuangan bukan lagi pelengkap, melainkan prasyarat bagi pertumbuhan yang inklusif.
Baca Juga: Tak Hanya Pikirkan Cuan, PisAgro Usung Zero Waste
“Kondisi ini menciptakan apa yang disebut financial exclusion trap. Jadi, rumah tangga sulit membangun aset, sulit mengakses pembiayaan produktif, dan lebih bergantung pada mekanisme informal yang berbiaya tinggi,” ia menambahkan.
Sementara, Rektor Universitas Pamulang Nurzaman menambahkan dimensi praktis dengan mengelompokkan empat pilar dasar literasi keuangan, yakni earning (pendapatan), spending (pengeluaran), saving (tabungan), dan sharing (berbagi). Ia menekankan bahwa meskipun sebagian besar mahasiswa belum berpendapatan sendiri, mereka tetap menerima aliran dana dari orang tua atau wali, sehingga perlu menghitung pendapatan harian, memprioritaskan pengeluaran pada kebutuhan bukan keinginan, menabung untuk masa depan sekecil apa pun, serta tidak melupakan kewajiban berbagi seperti pajak, infak, dan sedekah.
Kerangka ini sederhana, tetapi secara ekonomi mengandung logika anggaran rumah tangga yang penting: keseimbangan antara arus masuk dan arus keluar, pembentukan buffer saving, serta redistribusi sosial yang menjaga kohesi komunitas. Jika pilar-pilar ini ditanamkan sejak dini, efeknya bisa berantai pada penurunan kerentanan finansial dan peningkatan ketahanan konsumsi rumah tangga.
