ASIAWORLDVIEW – Pemanfaatan Artificial Intelligence atau AI dalam layanan kesehatan di Indonesia semakin menunjukkan potensi besar untuk meningkatkan kapasitas sistem medis. Hal itu bisa terlihat mulai dari mempercepat diagnosis, mendukung analisis data pasien, hingga membantu distribusi layanan di daerah terpencil.
Salah satu temuan paling menarik dari laporan ini adalah bagaimana tenaga kesehatan di Indonesia mulai memandang AI. Lebih dari 9 dari 10 tenaga kesehatan (94%) mengatakan bahwa peran mereka saat ini sudah—atau akan segera—lebih fokus pada pekerjaan klinis yang bernilai lebih tinggi. Artinya, tugas-tugas administratif yang repetitif dan memakan waktu mulai diambil alih oleh AI, memberi ruang bagi para dokter dan perawat untuk berkonsentrasi pada aspek yang benar-benar membutuhkan keahlian manusia.
Presiden Direktur Philips Indonesia, Astri Ramayanti Dharmawan, menambahkan bahwa AI yang terintegrasi pada perangkat medis modern mampu memangkas waktu pemeriksaan secara signifikan.
“Dulu, misalnya seorang dokter untuk melakukan scan jantung, abdomen, itu memerlukan beberapa step dan juga cukup lama,” ujarnya. Kini, dengan AI, proses pemindaian dan pengolahan data citra medis dapat dilakukan lebih cepat, bahkan dalam hitungan menit atau detik. Ini memungkinkan pasien, termasuk yang menjalani Medical Check-Up (MCU), untuk memperoleh hasil pembacaan awal dalam waktu yang lebih singkat,” ia mengatakan dalam laporan Future Health Index 2026 edisi ke-11 yang diluncurkan oleh Royal Philips pada Rabu (19/8/2026).
Bahkan, 83% dari mereka percaya bahwa AI akan membantu mereka bekerja secara optimal dengan kemampuan profesional terbaik mereka. Secara global, laporan yang melibatkan lebih dari 2.000 tenaga klinis dan 20.000 pasien dari 10 negara, termasuk Indonesia, menemukan bahwa hampir setengah dari klinisi (46%) mengatakan bahwa berkat AI, mereka menghemat setidaknya 132 jam setiap tahunnya—setara dengan lebih dari tiga minggu kerja penuh. Waktu yang dihemat ini, terutama oleh para perawat.
“AI mulai dilihat sebagai “rekan kerja” (co-pilot), bukan sekadar alat, terutama dalam membantu mengolah informasi, memproses data, dan mendukung analisis klinis,” ia menambahkan.
Baca Juga: Agentic AI Jadi Fondasi Layanan Asuransi Modern
Hasilnya, sekitar 71% tenaga medis melaporkan peningkatan efisiensi alur kerja, dan 50% mengatakan AI telah meningkatkan kapasitas mereka untuk melayani lebih banyak pasien. Dampaknya bahkan meluas hingga kesejahteraan pribadi, dengan sekitar 50% melaporkan bahwa AI telah meningkatkan keseimbangan kehidupan kerja dan mengurangi tingkat stres mereka.
“Kemudian dialokasikan untuk hal-hal yang lebih bermakna. Misalnya, kolaborasi dengan klinisi lain, lebih banyak waktu bersama pasien, dan refleksi yang lebih mendalam terhadap kasus yang ditangani,” jelasnya.
Meski begitu, tenaga kesehatan di Indonesia tetap memberikan batasan yang jelas. Sebanyak 94% menyatakan bahwa keterlibatan manusia (human in the loop) tetap sangat penting seiring dengan kemajuan AI, dan 91% percaya bahwa semua hasil yang dihasilkan AI harus tetap berada di bawah pengawasan manusia. Untuk sebagian besar aplikasi klinis, kurang dari 1 dari 10 tenaga kesehatan merasa nyaman jika AI mengambil keputusan dan bertindak secara mandiri.
Pemanfaatan AI juga menjawab persoalan nyata di Indonesia, yaitu ketimpangan distribusi dokter. Hal itu diungkapkan Kepala Pusat Data dan Teknologi Informasi (Pusdatin) Kemenkes, Eko Sulistijo. Ia mengatakan penyebaran dokter di Indonesia belum merata. Akibatnya, keberadaan alat pemeriksaan canggih seperti MRI tidak selalu diikuti dengan ketersediaan dokter yang mampu menganalisis hasilnya dengan cepat.
“Di sinilah AI berperan sebagai solusi, membantu proses analisis pemeriksaan medis berbasis gambar sehingga hasil dari fasilitas kesehatan di daerah terpencil pun tetap dapat dianalisis meskipun akses terhadap dokter spesialis terbatas,” sebutnya.
