ASIAWORLDVIEW – Regulator keuangan Jepang, Bank of Japan (BOJ), dan lembaga keuangan besar berencana mengembangkan infrastruktur penyelesaian transaksi berbasis blockchain berskala nasional . Hal itu dibuat dan dikembangkan untuk saham dan obligasi pemerintah Jepang (JGB).
Badan Jasa Keuangan Jepang (FSA), Kementerian Keuangan, dan Bank of Japan berencana membentuk sebuah gugus tugas pada musim panas ini, yang bertujuan untuk memulai kerja pada awal 2027, mengutip Nikkei (Rabu (26/8/2026)
Jika disetujui secara resmi dan pengujian berjalan sesuai rencana, operasi sistem on-chain baru tersebut akan dimulai pada awal tahun 2030-an, menurut laporan tersebut. Rencananya, bank-bank akan mengonversi sebagian dari rekening cadangan yang mereka miliki di BOJ menjadi token digital.
Token-token ini akan berfungsi sebagai mata uang digital bank sentral (CBDC) grosir, yaitu representasi digital dari mata uang lokal yang hanya digunakan antarlembaga keuangan, bukan oleh individu.
Semua bank di Jepang menggunakan rekening tersebut untuk penyelesaian pembayaran antarbank. Transaksi saham di Tokyo saat ini diselesaikan dua hari kerja setelah eksekusi. Transaksi JGB diselesaikan pada hari berikutnya. Infrastruktur baru ini akan memangkas waktu penyelesaian keduanya menjadi hampir nol, sehingga memungkinkan investor untuk menginvestasikan kembali hasilnya hampir seketika.
Baca Juga: Perusahaan Ini Raih Lisensi Kripto Pertama di Jepang dalam Empat Tahun
Hampir 80% investor institusional Jepang berencana mengalokasikan dana ke aset kripto dalam tiga tahun ke depan, menurut survei yang dilakukan oleh Nomura dan Laser Digital yang diterbitkan pada bulan April. Jepang berisiko kehilangan investor-investor ini ke yurisdiksi lain.
AS dan Eropa berlomba-lomba memodernisasi pasar modal melalui tokenisasi. Sementara Wall Street bergerak menuju perdagangan saham tokenisasi 24/7.
Rencana tokenisasi obligasi ini dibangun di atas momentum yang sudah ada. MUFG mengatakan awal bulan ini bahwa mereka sedang mempersiapkan uji konsep (proof of concept) untuk penyelesaian JGB on-chain menggunakan Jaringan Canton. Tiga bank terbesar Jepang, MUFG, SMBC, dan Mizuho, sudah menjalankan uji coba (pilot) untuk saham dan JGB yang ditokenisasi.
Bank of Japan (BOJ) memperluas sandbox penyelesaian berbasis blockchain-nya—ruang uji coba digital yang aman dan terisolasi—pada bulan Maret untuk melanjutkan upaya CBDC dan blockchain-nya, termasuk memastikan interoperabilitasnya dengan infrastruktur penyelesaian antarbank dan sekuritas yang sudah ada.
BOJ juga terlibat dalam Project Agorá, sebuah inisiatif Bank for International Settlements (BIS) yang menggabungkan tujuh bank sentral dan lebih dari 40 lembaga keuangan untuk menguji pembayaran lintas batas yang ditokenisasi. Infrastruktur penyelesaian berbasis blockchain baru Jepang dapat berfungsi sebagai landasan bagi upaya tersebut.
