Jepang Jadi Tujuan Ekspor Utama Sagu Indonesia, Pangsa Pasar Naik Tajam

Muhammad Sarmuji

ASIAWORLDVIEW – Jepang telah menjadi salah satu pasar ekspor paling penting bagi sagu Indonesia. Pada 2025, Indonesia tercatat menyuplai sekitar 14 persen kebutuhan pati sagu di Jepang. Kondisi menunjukkan posisi strategis Indonesia dalam rantai pasok komoditas tersebut. Capaian ini mencerminkan tingginya permintaan pasar Jepang terhadap pati sagu yang dikenal sebagai bahan baku serbaguna untuk industri pangan, minuman, hingga produk olahan lainnya. Bagi Indonesia, kondisi ini membuka peluang besar untuk meningkatkan nilai tambah komoditas sagu yang banyak dihasilkan di wilayah timur seperti Papua, Maluku, dan Papua Barat.

“Lonjakan tersebut merupakan tonggak penting dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, mengingat kontribusi Indonesia terhadap kebutuhan pati sagu Jepang hanya sebesar dua persen pada 2021. “Sebagian besar ekspor sagu kita mengalir ke Jepang.,” sebut Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji setelah membuka Sago Business Forum 2026 di Jakarta pada Kamis (5/11/2026).

Sarmuji mencatat bahwa lonjakan tersebut merupakan tonggak penting dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, mengingat kontribusi Indonesia terhadap kebutuhan pati sagu Jepang hanya sebesar dua persen pada 2021.

“Sebagian besar ekspor sagu kita mengalir ke Jepang. Data terbaru 2025 menunjukkan bahwa kita memasok 14 persen kebutuhan pati sagu Jepang, yang menandai peningkatan yang jelas,” ujar Sarmuji.

Baca Juga: Menperin Agus Gumiwang Lantik Maulana Wiga Jadi Ketua, STARFINDO Fokus Perkuat Ekosistem Startup

Menurut data pemerintah, penetrasi pasar Indonesia telah tumbuh secara stabil selama beberapa tahun terakhir, naik dari tujuh persen pada 2022, delapan persen pada 2023, dan sembilan persen pada 2024 sebelum melonjak ke 14 persen pada 2025.

Ekspansi ini berbarengan dengan kuatnya permintaan impor di Jepang yang mencapai 10,5 juta unit pada 2025—mewakili kenaikan 35 persen dari level 2021.

“Jejak pasar yang terus tumbuh ini menawarkan peluang besar bagi produsen pati sagu domestik untuk memperkuat posisi mereka melalui industrialisasi hilir dan peningkatan akses pasar ekspor,” jelasnya.

Untuk mempercepat kerja sama bilateral, pemerintah mendorong kemitraan yang lebih erat antara pelaku industri Indonesia dan Jepang. Sarmuji menuturkan bahwa perwakilan Jepang, termasuk pakar akademik, telah menawarkan diri untuk bertindak sebagai penghubung guna memfasilitasi pertukaran informasi dan kolaborasi.

“Tadi ada seseorang—seorang profesor dari Jepang—yang menawarkan diri menjadi jembatan antara Indonesia dan Jepang, khususnya soal sagu. Ia bahkan sampai menyatakan, ‘Tanyakan apa saja tentang sagu kepada kami.’ Itu sungguh luar biasa,” tutur Sarmuji.

Ia menegaskan bahwa membangun industri sagu nasional yang kokoh memerlukan kolaborasi multi-pemangku kepentingan—melibatkan investor, pelaku usaha, pemerintah daerah, dan mitra internasional—untuk memajukan teknologi pengolahan domestik dan menambah nilai produk. Investor Jepang untuk menjajaki usaha langsung di wilayah penghasil sagu Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *