ASIAWORLDVIEW – Paragon sukses sebagai perusahaan karena menempatkan guru dan pendidik sebagai bagian penting dari perjalanan mereka. Keberhasilan bisnis tidak hanya diukur dari pencapaian finansial atau pertumbuhan pasar, tetapi juga dari kontribusi nyata terhadap dunia pendidikan.
Salman Subakat, KomisariS ParagonCorp mengatakan, Sabtu (26/9/2026), dengan menghargai guru dan pendidik, Paragon menunjukkan komitmen untuk mendukung mereka yang berperan langsung dalam membentuk generasi masa depan. Dukungan ini diwujudkan melalui program-program inspiratif, penghargaan, serta kolaborasi yang menempatkan pendidik sebagai mitra strategis dalam membangun bangsa.
“Guru memikul peran ganda sebagai penjaga nilai, karakter, dan masa depan Indonesia. Pesan ini penting karena pendidikan sering kali dipahami secara sempit sebagai transfer ilmu pengetahuan dari guru ke murid, padahal hakikatnya jauh lebih luas,” sebutnya dalam ajang Inspiring Educators 2026 dengan tema “Menjaga Masa Depan, Untuk Pertiwi”.
“Pendidik bukan sekadar pengajar yang menyampaikan materi pelajaran, melainkan garda terdepan dalam membentuk generasi penerus bangsa,” ia menambahkan.
Baca Juga: INKLUSIFA Hadir, Dorong Literasi Inklusi dan Kesehatan Publik
Pendidikan adalah proses panjang untuk menanamkan cara berpikir, cara merasa, dan cara bertindak. Di ruang kelas, seorang guru tidak hanya mengajarkan matematika, bahasa, atau sains, tetapi juga menanamkan kejujuran, empati, disiplin, kerja sama, dan cinta tanah air. Nilai-nilai itulah yang akan menjadi kompas bagi anak-anak ketika mereka tumbuh dewasa dan menghadapi berbagai tantangan zaman.
Tema “Menjaga Masa Depan, Untuk Pertiwi” mengandung makna bahwa pendidikan adalah investasi jangka panjang bagi keberlanjutan bangsa. Masa depan tidak dibangun dalam semalam, melainkan melalui akumulasi proses belajar yang konsisten, sabar, dan penuh kesadaran. Salman Subakat mengajak para pendidik untuk terus berinovasi dan beradaptasi dengan perkembangan zaman.
“Dalam era digital yang bergerak cepat, guru menghadapi tantangan yang jauh lebih kompleks dibandingkan dekade sebelumnya: banjir informasi, perubahan pola komunikasi, krisis perhatian, hingga pergeseran nilai sosial. Karena itu, guru tidak bisa hanya bertahan dengan metode lama. Mereka perlu menguasai teknologi, memahami psikologi anak, dan mampu merancang pembelajaran yang relevan dengan kehidupan murid. Inovasi bukan berarti meninggalkan nilai-nilai lama, melainkan mencari cara baru agar nilai-nilai tersebut tetap hidup dan bermakna bagi generasi muda,” jelasnya
Lebih dari itu, Salman menekankan pentingnya menanamkan nilai kebangsaan dan kemanusiaan dalam setiap proses belajar. Pendidikan yang hanya mengejar nilai akademik, tanpa diimbangi pembinaan karakter, akan menghasilkan manusia yang cerdas tetapi rapuh secara moral. Sebaliknya, pendidikan yang menyeimbangkan pengetahuan, keterampilan, dan nilai akan melahirkan generasi yang tidak hanya kompeten, tetapi juga memiliki integritas dan kepedulian sosial.
Nilai kebangsaan membuat anak memahami bahwa mereka adalah bagian dari Indonesia yang majemuk, dengan tanggung jawab untuk menjaga persatuan dan keadilan. Nilai kemanusiaan membuat mereka mampu melihat orang lain sebagai manusia yang setara, bukan sebagai ancaman atau pesaing.
“Ketika seorang guru berhasil menanamkan semangat belajar, nilai moral, dan cinta pada negeri, ia sedang berkontribusi pada masa depan Indonesia yang lebih baik. Karena itu, ajakan untuk terus berinovasi, beradaptasi, dan menanamkan nilai kebangsaan serta kemanusiaan bukanlah seruan simbolik, melainkan panggilan untuk menjaga keberlanjutan bangsa,” pungkasnya.
