ASIAWORLDVIEW – Pasar kerja Asia-Pasifik terkenal sangat heterogen: ada ekonomi maju dengan angkatan kerja menua seperti Jepang dan Australia, ada ekonomi berkembang dengan bonus demografi seperti Indonesia dan Filipina. Bahkan ekonomi yang masih bergulat dengan informalitas tinggi, kesenjangan keterampilan, dan mobilitas tenaga kerja lintas negara yang terbatas.
Dalam kondisi seperti itu, pencarian kerja dan rekrutmen sering kali mahal secara ekonomi karena informasi tidak simetris. Perusahaan tidak sepenuhnya tahu kualitas kandidat, sementara pencari kerja tidak sepenuhnya memahami kebutuhan dan ekspektasi pemberi kerja.
Jobstreet by SEEK memperkenalkan fiturcPersonalised Targeting dan Assist hari ini, Jumat (18/9/2026). Bukan sekadar pembaruan fitur platform, melainkan respons terhadap friksi struktural yang sudah lama mengganggu pasar kerja di kawasan.
“Rekrutmen bukan hanya tentang menemukan kandidat, tetapi juga tentang membangun koneksi dan mengambil keputusan yang tepat. Dengan Personalised Targeting dan Assist, kami mengintegrasikan penargetan kandidat, pengelolaan proses, dan otomatisasi ke dalam satu platform. AI membantu menangani pekerjaan rutin dan memberikan rekomendasi langkah berikutnya, sementara perekrut tetap memegang kendali atas keputusan,” Wisnu Dharmawan, Managing Director, Indonesia, Jobstreet by SEEK, menjelaskan.
“Muncul biaya pencarian, waktu rekrutmen yang panjang, salah penempatan, dan turnover yang tinggi. Kehadiran AI dan otomatisasi dalam platform rekrutmen menyasar exactly titik ini. Dengan fitur ini menurunkan biaya transaksi dan memperbaiki kualitas pencocokan antara permintaan dan penawaran tenaga kerja,” ia menambahkan.
Baca Juga: Teknologi AI Bisa Tingkatkan Produktivitas Hingga 40%, Penerapan Harus Bertanggung Jawab
Secara ekonomi, Personalised Targeting dapat dibaca sebagai upaya meningkatkan efisiensi alokasi dalam pasar kerja. Dengan penargetan kandidat yang lebih relevan, perusahaan tidak lagi membuang sumber daya untuk menyaring ribuan lamaran yang tidak sesuai, dan kandidat juga lebih mungkin menemukan pekerjaan yang cocok dengan keterampilan, pengalaman, serta preferensi mereka. Dalam bahasa teori pencocokan pasar kerja, ini berpotensi memperpendek durasi lowongan terbuka dan mempercepat masa pencarian kerja, yang pada akhirnya dapat menurunkan pengangguran friksional. Sementara itu, Assist memperluas logika efisiensi itu ke seluruh alur kerja rekrutmen: mengelola lamaran dan shortlist, pemeriksaan referensi, hingga wawancara awal berbasis suara.
“Dengan berkurangnya waktu yang dihabiskan untuk pekerjaan administratif dan repetitif, tim rekrutmen dapat kembali berfokus pada hal yang paling penting: memahami kandidat, membangun hubungan, dan menghadirkan pengalaman rekrutmen yang lebih manusiawi,” lanjut Wisnu.
Otomatisasi tugas-tugas administratif dan repetitif ini mengurangi beban kerja kognitif yang rendah, sehingga tim rekrutmen dapat mengalihkan waktu dan energi ke aktivitas yang bernilai lebih tinggi, seperti membangun hubungan dengan kandidat, menilai kecocokan budaya, dan mengambil keputusan yang memang membutuhkan pertimbangan manusia. Ini sejalan dengan gagasan task-based technological change: teknologi tidak serta-merta menggantikan pekerjaan, tetapi mengubah komposisi tugas, meningkatkan produktivitas pada tugas rutin, dan menggeser manusia ke tugas non-rutin yang lebih interpersonal dan strategis.
Peta jalan SEEK di delapan negara Asia-Pasifik menunjukkan evolusi yang cukup jelas dan bertahap. Pada 2023, mereka menyatukan platform global untuk menghubungkan kandidat dan perusahaan di kawasan. Pada 2024, mereka mendemokratisasi akses melalui model freemium, membuka iklan lowongan kerja gratis bagi perusahaan—langkah yang secara ekonomi memperluas partisipasi, terutama bagi UKM yang selama ini terkendala biaya rekrutmen.
