ASIAWORLDVIEW – Indonesia telah berkembang menjadi salah satu pasar digital terbesar di dunia. Namun, besarnya jumlah konsumen digital belum menjamin Indonesia menjadi produsen teknologi terkemuka. Tantangan berikutnya adalah membangun kapabilitas domestik, kekayaan intelektual, investasi, dan kemitraan internasional agar Indonesia dapat memperoleh nilai ekonomi lebih besar dari transformasi digital.
Tema tersebut menjadi sorotan pada hari ketiga Bali Tech Week 2026 melalui AI Impact Summit, Indonesia Game Developer Exchange (IGDX), dan pembahasan investasi startup. Berbagai inisiatif ini menunjukkan upaya Indonesia untuk beralih dari sekadar pengguna teknologi menjadi negara yang mampu mengembangkan dan mengomersialkannya. Salah satu pengumuman utama AI Impact Summit adalah Project NUSA, singkatan dari Network for Unified, Secure AI, hasil kolaborasi antara Kolaborasi Riset dan Inovasi Industri Kecerdasan Artifisial Indonesia (KORIKA) dan AI Singapore.
Inisiatif ini diperkenalkan oleh Ketua KORIKA Hammam Riza bersama perwakilan AI Singapore, William Tjhi. Kolaborasi tersebut menggabungkan ekosistem riset Singapura dengan pasar Indonesia yang besar, tenaga kerja teknologi yang berkembang, dan kebutuhan aplikasi AI untuk berbagai sektor. Namun, keberhasilan Project NUSA akan ditentukan oleh kemampuannya menghasilkan keahlian lokal, sistem yang berfungsi, dan aplikasi bernilai komersial—bukan sekadar pengumuman kerja sama. Dalam bahasa teknologi, ini adalah ujian apakah kolaborasi internasional dapat benar-benar menghasilkan transfer pengetahuan dan kapasitas produksi, atau hanya berhenti sebagai memorandum yang tidak berdampak.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, yang menyampaikan sambutan secara virtual, menyoroti potensi AI dalam mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia.
“AI dapat meningkatkan efisiensi manufaktur, memperkuat analisis risiko keuangan, mengoptimalkan logistik, dan meningkatkan pelayanan publik. Namun, manfaat tersebut membutuhkan infrastruktur yang andal, data berkualitas, tenaga profesional terlatih, serta penyesuaian proses bisnis. Usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) juga perlu memperoleh akses terhadap teknologi ini,” jelasnya.
Baca Juga: Teknologi AI Bisa Tingkatkan Produktivitas Hingga 40%, Penerapan Harus Bertanggung Jawab
Perangkat terjangkau, pelatihan praktis, dan aplikasi yang sesuai kebutuhan industri dapat membantu mereka berpartisipasi dalam transformasi digital. KORIKA turut berperan menghubungkan riset, kebijakan pemerintah, dan kebutuhan industri. Perguruan tinggi serta lembaga riset membutuhkan akses terhadap komputasi, data, pendanaan, dan mitra bisnis agar penelitian dapat dikembangkan menjadi produk komersial.
Sementara itu, industri membutuhkan solusi yang relevan dengan kebutuhan Indonesia, mulai dari pertanian, mobilitas perkotaan, inklusi keuangan, hingga administrasi publik. Tujuannya adalah mendorong lahirnya perusahaan lokal yang mampu mengembangkan teknologi bernilai dan bersaing di pasar regional.
Di sisi lain, Indonesia Game Developer Exchange (IGDX) 2026 mempertemukan pengembang gim, penerbit, dan pelaku industri internasional selama tiga hari.
Ketua Asosiasi Game Indonesia, Shafiq Husein, menyampaikan bahwa sekitar 240 pengembang gim berpartisipasi dalam acara tersebut. Indonesia memiliki pasar gim yang besar, tetapi nilai komersialnya masih banyak mengalir kepada pengembang dan pemilik platform luar negeri. Penguatan studio lokal dapat membuka peluang untuk menciptakan kekayaan intelektual orisinal, menghasilkan pendapatan ekspor, dan menyediakan lapangan kerja di bidang teknologi serta industri kreatif.
IGDX menjadi wadah penting untuk membangun hubungan bisnis, menjajaki kesepakatan penerbitan, dan memperluas peluang distribusi. Perkembangan ini menunjukkan bahwa ekonomi digital Indonesia dapat menghasilkan nilai lebih besar melalui produk dan kekayaan intelektual yang mampu dipasarkan secara internasional. Secara keseluruhan, Bali Tech Week 2026 mencerminkan sebuah momen refleksi sekaligus aksi: Indonesia tidak bisa lagi hanya menjadi pasar bagi teknologi yang dikembangkan di tempat lain.
Dengan membangun kapabilitas AI, mendukung studio game lokal, dan menghubungkan riset dengan industri, Indonesia berpotensi mengubah posisinya dari konsumen menjadi pencipta—dan pada akhirnya, dari pengikut menjadi pemimpin di kawasan.
