ASIAWORLDVIEW – Kualitas produk farmasi tidak hanya bergantung pada proses produksi, tetapi juga pada cara produk disimpan dan didistribusikan hingga tiba di fasilitas pelayanan kesehatan. Tantangan geografis, keterbatasan infrastruktur, kepatuhan terhadap regulasi, hingga kebutuhan pengendalian suhu menjadikan logistik sebagai komponen krusial dalam rantai pasok kesehatan.
Menjawab tantangan tersebut, MOSTRANS menyelenggarakan webinar bertajuk “Future of Healthcare Logistics: Delivering Quality Beyond Transportation” yang membahas perkembangan regulasi, kolaborasi rantai pasok, serta praktik terbaik distribusi produk farmasi. Kolaborasi dan pemanfaatan teknologi dinilai dapat membantu menjawab berbagai tantangan dalam rantai pasok kesehatan.
Dalam forum tersebut, CEO MOSTRANS Berty Argiyantari menekankan bahwa logistik kesehatan memerlukan pendekatan yang lebih menyeluruh daripada sekadar memastikan produk sampai ke tujuan. Menurutnya, aspek kualitas, keamanan, ketepatan waktu, dan kepatuhan terhadap standar harus diperhatikan pada setiap tahapan distribusi.
“Melalui webinar ini, kami ingin membuka ruang pertukaran wawasan antara pemerintah, INDUSTRI farmasi, tenaga kefarmasian, fasilitas pelayanan kesehatan, dan penyedia layanan logistik,” ujarnya.
Baca Juga: Kolaborasi Lintas Sektor: Kunci Kalbe Farma dalam Mengedukasi dan Mengatasi Diabetes di Indonesia
Kegiatan ini mendapat sambutan baik dari Kementerian Kesehatan. Direktur Produksi dan Distribusi Farmasi Kementerian Kesehatan, apt. Dita Novianti SA, S.Si., MM, memaparkan pentingnya kepatuhan terhadap regulasi dalam penyelenggaraan distribusi farmasi.
Salah satu pedoman utama yang perlu diterapkan adalah Cara Distribusi Obat yang Baik (CDOB), termasuk ketentuan pengangkutan dan pengendalian mutu. Standar tersebut menjadi acuan bagi pelaku distribusi untuk memastikan produk tetap memenuhi persyaratan selama proses pengiriman, dan penerapannya perlu didukung pengawasan yang konsisten pada setiap tahapan distribusi.
“Distribusi farmasi di Indonesia memiliki tantangan yang beragam karena kondisi geografis negara kepulauan. Keterbatasan infrastruktur dan akses antar-wilayah dapat memengaruhi kelancaran pengiriman, termasuk ketika terjadi gangguan transportasi atau perubahan kondisi operasional,” tutur Dita.
Menurutnya, diperlukan perencanaan dan kesiapan untuk mengantisipasi berbagai risiko. Selain itu, pemahaman setiap pihak akan perannya dalam menjaga kelancaran distribusi agar obat tersedia di lokasi dan waktu yang dibutuhkan.
Keterhubungan antarpihak memungkinkan koordinasi operasional berlangsung lebih efektif sekaligus membantu meminimalkan potensi gangguan pasokan. Teknologi dapat menjadi faktor pendorong untuk meningkatkan transparansi dan pengendalian dalam distribusi farmasi.
Melalui digital monitoring, proses pengiriman dapat dipantau sehingga potensi kendala lebih mudah diidentifikasi. Fitur traceability juga memungkinkan perjalanan produk ditelusuri sepanjang rantai pasok.
